
Hadi Mulyadi di hadapan segelintir mahasiswa yang melakukan demo di depan kantor Gubernur.
JawaPos.com - Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi merasa berang terhadap mahasiswa yang mengejeknya ketika ia menemui peserta unjuk rasa Komite Lawan Tambang di Kantor Gubernur Kaltim Jl Gadjah Mada, Senin (10/12/2018).
Hadi tersulut emosi ketika ia menjelaskan bahwa dirinya tak ada urusan dengan tambang dan tak menerima uang satu sen dari penambang. Penjelasan ini disoraki peserta unjuk rasa dengan teriakan.
Mulanya Hadi mengancam tak mau melanjutkan bicara ketika ada ejekan menyebutnya dia pembohong dan menyela pembicaraannya.
"Saya hitung, satu dua. Yang bicara bawa masuk (kantor), masuk ke dalam ruangan saya," kata Hadi dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Selasa (11/12).
Hadi pun lalu meminta tolong kepolisian dan Satpol PP menarik peserta unjuk rasa berbaju kotak-kotak. "Tolong baju kotak-kotak masuk sini. Kamu pejuang atau bukan. Masuk ke dalam sini. Saya perintahkan," katanya.
Aktivis Pradarma Rupang lalu menenangkan suasana. "Oke Pak Hadi," katanya.
Hadi melanjutkan pembicaraannya bahwa dirinya diam saja ketika peserta unjuk rasa menyatakan sikapnya. Namun, ketika dirinya berbicara, peserta unjuk rasa mengoloknya.
"Kamu bicara setengah jam. Saya diam. Saya bicara, kamu mengolok-ngolok," kata Hadi.
Usai, itu Hadi kembali berbicara. Ia akan memerintahkan Kepala Dinas ESDM Kaltim segera kumpulkan 38 inspektur tambang pada Selasa (11/12).
"Kepala ESDM, para inspektur tambang kumpulkan. Saya secara pribadi akan mengoreksinya," jelas Hadi yang disambut tepuk tangan peserta unjuk rasa dari Komite Lawan Tambang.
Dibawah terik matahari, Hadi menegaskan ia rela berkorban mengundurkan diri dari anggota DPR RI untuk maju calon Wakil Gubernur Kaltim demi mengabdi kepada masyarakat. "Untuk apa saya hidup disini. Saya bekerja untuk kaltim," katanya.
Kemarahan Hadi kembali muncul. Ketika ada lagi suara yang menyela pembicarannya. Ia lalu memerintahkan lagi kepolisian menjemput mahasiswa. "Mana topi hitam. Polisi keluar sana. Ambil. Jemput," teriak Hadi.
Suasana dialog menjadi gaduh kembali tenang. Hadi lalu menjelaskan bahwa 32 anak korban jiwa di lubang bekas tambang, salah satunya adalah keponakannya.
"Tahu nggak kalian, 32 korban jiwa, salah satu keponakan saya laki-laki tinggal di Sungai Kunjang. Saya sedih saya marah. Jangan anggap saya berdiam diri. Apa yang kalian sampaikan akan tindak lanjuti," katanya.
Sementara itu, Rupang menanggapi pernyataan Hadi mengatakan bahwa evaluasi izin pertambangan batubara oleh pemerintah provinsi harus ada agenda keselamatan rakyat. Jangan sampai ada komitmen palsu untuk tak menindak pertambangan yang salah aturan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
