Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Desember 2018 | 20.20 WIB

Dulu Tempati Garasi Rumah, Kini Jadi Surga Literasi Musik

Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto dengan latar belakang puluhan ribu koleksi literatur musik. - Image

Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto dengan latar belakang puluhan ribu koleksi literatur musik.

JawaPos.com- Kota Malang punya tempat menarik yang bisa menjadi rujukan untuk menyimak sejarah, perkembangan, dan ragam musik di Tanah Air. Namanya Museum Musik Indonesia (MMI). Berada di lantai 2 Gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan No. 19, MMI menyimpan 26 ribu koleksi karya musik.



Fisca Tanjung, Malang



Saat memasuki ruangan, pengunjung akan langsung dihadapkan dengan etalase koleksi piringan hitam di samping pintu. Masuk lebih ke dalam lagi, terlihat lebih banyak lagi koleksi yang terpajang rapi di sejumlah rak dan lemari kaca. Mulai dari kaset pita, piringan hitam, majalah musik, hingga poster penyanyi-penyanyi Indonesia.


Tidak hanya itu, di beberapa sudut juga terdapat etalase khusus yang menyimpan alat musik maupun benda-benda asli milik artis kenamaan Indonesia. Contohnya, yang berada di dekat rak kaset. Di sana terdapat baju serta koleksi kaset milik penyanyi Guruh Soekarno Putra. Bahkan, museum ini juga menyimpan baju panggung milik penyanyi Dara Puspita. Usia baju tersebut sekitar setengah abad.


Museum ini merupakan satu-satunya museum musik di tanah air. Meski baru diresmikan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI pada 19 November 2016, sejarah MMI sebenarnya sudah dimulai sejak lama.


Hengki Herwanto adalah sosok utama di balik berdirinya MMI. Pria yang kini juga menjadi Ketua Museum Musik Indonesia itu telah mengawali perjalanan menjadikan museum ini sejak tahun 2007. Siapa sangka, museum ini awalnya berada di sebuah garasi.


Semuanya berawal karena hobi dan kecintaan Hengki terhadap musik. Dia sudah jatuh cinta dengan musik sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).


Kala itu, dirinya sering melihat konser musik di sekitar rumahnya. Ketika menonton itu pula, tak jarang dirinya mengabadikan riuhnya konser dengan tustel (kamera poket) miliknya. Dia pun kemudian mengirimkan hasil jepretannya tersebut ke salah satu majalah yang ada di Bandung.


Tak sia-sia, karya Hengki sering dimuat di majalah tersebut. Dia pun menjadi ketagihan untuk mengirimkan karyanya. Hal itu kemudian berlangsung hingga dirinya menjadi mahasiswa.


Namun, setelah lulus kuliah, lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini sudah berhenti menjadi wartawan majalah tersebut. Dia memilih fokus untuk bekerja di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejak itu pula, dia meninggalkan hobinya terhadap musik.


Selanjutnya pada tahun 2007-2008, dia kembali dihubungi oleh teman-teman seangkatan saat berprofesi sebagai jurnalis. "Saya dikontak, katanya mereka mau bikin buku. Saya disuruh bikin tulisan. Akhirnya rasa cinta terhadap musik bangkit lagi," ujar pria kelahiran Palembang ini.


Kemudian pada tahun 2009, mereka mempunyai ide untuk menggelar sebuah pertunjukan musik. Dari situlah, mereka kemudian membicarakan tentang koleksi mereka masing-masing, seperti CD dan piringan hitam. Dari obrolan itu, mereka berpikir untuk mengumpulkan koleksi-koleksi itu agar menjadi barang yang bermanfaat.


Akhirnya, pada 8 Agustus 2009, dicanangkanlah Galeri Malang Bernyanyi. Pada awalnya, mereka hanya mempunyai sebanyak 250 koleksi saja. "Pada saat itu kami tidak berpikir tentang tempat, sumber dana, maupun legalitas. Kami hanya berangkat dari koleksi," tambahnya.


Bapak dua anak ini menyampaikan, sejak Agustus 2009 hingga April 2010, koleksi-koleksi tersebut disimpan di garasi rumah berukuran 3x5 meter miliknya yang terletak di Jalan Citarum. Selama itu, dia rajin mempromosikan galeri melalui media sosial. Sehingga masyarakat bisa datang berkunjung. "Kami juga sambil hunting minta sumbangan. Kami upload di Facebook kalau ada yang mau nyumbang," terangnya.

Editor: Dida Tenola
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore