
DEMO: Sejumlah penyayang binatang melakukan aksi stop konsumsi daging anjing di Car Free Day, Solo baru-baru ini.
JawaPos.com - Sekitar 280 anjing disuplai ke wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) setiap minggunya. Hal itu untuk memenuhi permintaan kebutuhan konsumsi anjing di Kota Gudeg yang memang masih tinggi.
Hal tersebut diungkapkan oleh relawan dari Animal Friends Jogja (AFJ), Boby Fernando. "Seharinya kebutuhan daging anjing kisaran 40 anjing. Itu data investigasi kami pada 2016-2017," katanya, saat ditemui JawaPos.com, baru-baru ini.
Anjing-anjing itu disuplai dari Pulau Bali melalui jalur laut. Kemudian diangkut memakai kendaraan di jalur darat, melewati Jogja menuju ke Jawa Barat. "Menyuplai anjing ke Jogja ini 2 kali. Dari Bali ke Jogja, kemudian ke Jawa Barat. Kembali dari Jawa Barat ke Jogja lagi, sebelum akhirnya ke Bali," katanya.
Ia meyakini pada 2018 ini pun angka tersebut tak berubah banyak. Berdasar dari pengalaman dalam melakukan investigasi, yang memang trend konsumsi daging anjing di Jogja stagnan.
Lanjutnya, untuk warung penjual daging anjing ini juga merata di DIJ. Baik itu di Kabupaten Kulon Progo, Gunungkidul, Sleman, Bantul, maupun Kota Jogjakarta. "Tapi yang paling banyak tingkat konsumsinya ada di Kabupaten Sleman dan Kota Jogjakarta. Karena 2 wilayah ini pusat ekonominya. Banyak warung di sana," katanya.
Ia juga menegaskan, anjing bukan merupakan daging pangan. Hewan itu merupakan sahabat bagi manusia, seperti halnya kucing. "Kami menganggap anjing dan kucing bukan untuk dikonsumsi," katanya.
Fakta kesehatan pun mengungkapkan, daging anjing dapat sebagai media tertularnya penyakit rabies. Ini dapat membahayakan bagi manusia yang mengkonsumsinya.
Hal yang sama juga terjadi di Kota Solo. Tingkat konsumsi daging anjing di Kota Bengawan ini juga tergolong cukup tinggi. Dari data yang dimiliki oleh komunitas pecinta anjing Dog Lover Solo di Solo terdapat sekitar 100 warung makan daging anjing.
Dari jumlah tersebut, rata-rata setiap warung makan menghabiskan empat ekor anjing. "Jadi dalam sehari, rata-rata ada 400 anjing yang dibunuh untuk dikonsumsi. Kalau itu dikalikan sebulan kan jumlahnya sangat banyak," terang anggota komunitas, Go Mustika kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Banyaknya anjing yang dibunuh setiap harinya ini, menurut Mustika, sangat tidak mungkin jika anjing-anjing tersebut didapatkan dari peternakan. Hal ini karena, untuk beternak anjing juga butuh waktu dan tidak mungkin bisa secepat itu.
Menurutnya, ada jangka waktu yang cukup lama untuk anjing bisa bereproduksi lagi. "Kami paham sekali mengenai masa kesuburan anjing itu usia berapa, berahi itu usia berapa, hamil dan melahirkan semua butuh waktu tidak mungkin kalau itu dari peternakan," terangnya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
