Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 November 2018 | 20.53 WIB

Kubur Penyesalan, Usai Pesantren Kini Ghazali Bangun Galeri Perdamaian

Ustad Khairul Ghazali saat peresmian Galeri Perdamaian di Pesantren Al Hidayah, Desa Sei Mencirim, Kecamatan kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang. - Image

Ustad Khairul Ghazali saat peresmian Galeri Perdamaian di Pesantren Al Hidayah, Desa Sei Mencirim, Kecamatan kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang.

JawaPos.com- Lokasi pesantren itu jauh dari hiruk pikuk kota. Tidak ada bising suara kendaraan. Udaranya juga masih segar. Teduh nian rasanya.



Prayugo Utomo, Medan



Di Pesantren itu, Khairul Ghazali melanjutkan hidupnya. Mantan pelaku perampokan di Bank CIMB Niaga tahun 2010 silam itu berinisiatif membangun pondok pesantren. Tujuannya, memberikan wadah pendidikan untuk anak-anak Eks kombatan. 


Nama Pesantren Al Hidayah dipilihnya. Di awal pembangunan namanya adalah Darusy Syifaa'. Pesantren yang letaknya di tengah hamparan kebun tersebut kini berkembang pesat. 


Deradikalisasi menjadi program reguler di pesantren yang berlokasi di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang. Hasilnya, anak-anak di sana menjadi paham, bahwa radikalisme sangat berbahaya. Bisa memecah belah bangsa.


Ide membangun pesantren, didapatnya saat mendekam di balik jeruji besi. Ada pemikiran bahwa yang dilakukannya salah. Anaknya juga jadi korban perundungan di sekolah. Hingga akhirnya memutuskan tidak melanjutkan pendidikan.


Dia merasakan penyesalan yang begitu mendalam lantaran pernah menjadi pelaku kejahatan. Lama dia merenung, akhirnya Ghazali harus membangun pesantren demi pendidikan anak-anak.  


Di awal pembangunan, Ghazali harus terseok-seok. Untuk membangunnya, dia harus merogoh isi dompetnya dalam-dalam. Dana pribadi itu didapat dari hasil goresan-goresan tulisan yang dikumpulkan, hingga menjadi buku. Saat itu, kala pertama kali dibangun, hanya ada sebuah musala kecil yang juga berfungsi sebagai asrama untuk anak-anak. 


Sekarang, pesantren sudah banyak berbenah. Bangunannya semakin banyak. Kelas untuk para santri juga dipugar sedemikian rupa. Tidak sedikit donatur yang masuk dan memberikan dana untuk pembangunan. 


Di awal kehadirannya, pesantren juga sempat mendapat penolakan warga. Papan nama pesantren beberapa kali dirusak. Sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan untuk menjelaskan, untuk apa sebenanya tujuan pesantren dibangun. 


Pesantren Al Hidayah juga sudah mulai membuka diri. Anak-anak dari luar sudah boleh menimba ilmu di sana.


Selain tempat pendidikan, di areal pesantren juga dibangun Galeri Perdamaian. Galeri Perdamaian itu diresmikan oleh Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto, hari ini (1/110. Agus bersama beberapa pejabat utama Polda Sumut datang ke pesantren itu.


Agus mengatakan, saat ini yang perlu ditanamkan ke masyarakat begitu bahanya paham radikalisme. Pencegahannya dilakukan dengan pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat. 


"Saya meresmikan ini untuk mengingatkan kembali generasi muda dan masyarakat akan bahaya paham radikal dan teroris. Agar semua masyarakat sadar, Indonesia ini perlu dijaga dengan kedamaian," sebut jenderal bintang dua itu.


Laki-laki berkumis itu juga mengingatkan bahwa perdamaian tidak hanya tanggung jawab dari aparat keamanan. Dia ingin perdamaian dijaga bersama. Khusus bagi mantan kombatan, dia meminta untuk menjaga keutuhan NKRI dan menyosialisasikan tentang bahaya terorisme. 

Editor: Dida Tenola
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore