
ILUSTRASI kemiskinan. Nek Ramlah, janda 74 tahun itu berkali-kali mengeluhkan gubuknya yang reyot ke RT setempat. Namun, hingga kini tak ada respons.
JawaPos.com - Nek Ramlah sadar usianya tak lagi muda. Jangankan bekerja, berjalan saja dia sudah tak kuasa.
"Berjalan pun tak mampu, kalau turun dari rumah pakai tongkat bambu," ungkapnya.
Begitu pula ketika sakit. Dia hanya bisa coba bertahan dan melawan deritanya itu lantaran tidak ada biaya untuk berobat.
Nek Ramlah sering mengeluhkan isi hatinya kepada para tetangga. Juga beberapa kali menyampaikan deritanya kepada RT setempat, agar mendapatkan bantuan pemerintah. Namun belum mendapatkan respons positif.
"Selama ini tak pernah saya dapat bantuan. Padahal saya janda dan tak bisa kerja," ucap Nek Ramlah sedih.
Putri sulung Nek Ramlah, Ida Jafar hanya bisa pasrah dengan keadaan yang dialami ibunya. Pasalnya, kehidupan perempuan 50 tahun ini tak jauh beda dengan ibunya.
"Saya mau bicara apa lah. Mau ngambek dia. Keadaan saya pun sama dengan dia. Rumah pun tak berdinding," paparnya dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (18/9).
Andai rumah miliknya dalam keadaan baik, Ida ingin sekali merawat ibunya. Namun, keinginannya itu belum bisa ia tunaikan.
"Mau saya bawa ke rumah, lantainya pun sabut kelapa dan bocor juga," ucapnya.
Ida keseharianya bekerja sebagai buruh tani. Untuk menafkahi keluarga dan pendidikan anaknya saja tak sanggup. Dirinya hanya bisa berharap ibunya segera mendapat perhatian pemerintah.
Pondok Nek Ramlah dibangun di lahan milik Hamzah. Pria ini meminjamkan tanahnya lantaran prihatin dengan kondisi Nek Ramlah.
Dia merasa sudah seharusnya di usia Nek Ramlah yang senja sekarang, janda itu bisa hidup tenang. Tidak banyak pikiran.
"Apalagi dia seorang janda. Jangan bekerja berjalan pun sudah tidak mampu," kata Hamzah.
Dia pun menceritakan awal mula Nek Ramlah mendirikan pondok di lahannya. Saat itu, Nek Ramlah minta izin tinggal di tanahnya.
"Saya kasihan lihat dia, kita izinkan dan perhatikanlah semampu sebagai warga," kisahnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
