
Ratusan ton ikan mati di Danau Toba.
JawaPos.com - Dinas Pertanian Kabupaten Samosir membeberkan dugaan penyebab ratusan ton ikan yang mati di Danau Toba sejak Selasa (21/8). Menurut mereka, kematian ikan secara massal di Kerambah Jaring Apung (KJA) karena debit air Danau Toba yang semakin menurun.
Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Samosir Jhunelis Sinaga tidak menampik air Danau Toba memang mengalami penyurutan hingga empat meter dari biasanya. Penyebabnya masih diselidiki.
Penyurutan Air Danau Toba menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ke dalam. Sehingga, suhu air danau berubah dan berpengaruh pada ekosistem ikan.
"Ada perubahan suhu dari dasar perairan hingga ke permukaan sehingga oksigen itu sangat berkurang," kata Jhunelis kepada JawaPos.com, Kamis (23/8).
Kedalaman kerambah juga menjadi soal. Saat ini pantauan Dinas Pertanian, kedalaman kerambah tidak mencapai 30 meter. Sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan. Kedalaman rata-rata kerambah hanya 10 meter.
Di Danau Toba memang banyak ditemui KJA. Namun hingga kini belum ada kebijakan kabupaten setempat untuk mengatur KJA. Bahkan saat ini, Samosir masih menyusun Rancangan Peraturan Bupati (Ranperbup) terkait izin usaha perikanan.
"Karena selama ini kan izin usaha perikanaan ini kan belum kita jalankan. karena masih semacam draft. Jadi nantinya kita akan imbau pada pemilik kerambah supaya mereka mau memindahkan kerambanya ke lokasi yang sudah diperuntukkan," katanya.
Selama ini Pemkab Samosir masih berpedoman dengan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 81 tahun 2014. Didalamnya terdapat peraturan tentang kedalaman untuk beternak ikan di danau. Kedalamannya minimal 30 meter sampai lebih.
Sayangnya itu tidak dituruti. Pemilik kerambah masih membuat jaring kerambah di kedalaman 10 meter. Saat ini ada 9 kecamatan di Samosir yang memiliki kerambah. Paling banyak berada di kecamatan Pangururan.
Untuk sementara, Pemkab masih melakukan upaya evakuasi bangkai ikan. Bangkai ditarik menggunakan alat berat. Kemudian dikuburkan di seputar lokasi. "Kepada pemilik keramba untuk dua bulan ini rehab dulu lah sekaigus mereka menjemur jaringnya dulu," tukasnya.
Lebih jauh lagi, Jhunelis menampik kalau endapan pakan ikan di dasar danau juga menjadi penyebab kematian. Karena dia mengklaim bahwasannya seluruh petani menggunakan pakan yang mengapung.
"Namun begitu kita tetap melakukan penelitian dengan membawa sampel air dan pakannya. Hasilya belum ada, karena dinas perikanan provinsi akan turun untuk mengecek hal tersebut," tandasnya.
Data sementara, ada 140 kerambah yang ikannya mati massal. Totalnya hingga 180 ton mujair dan ikan mas. Kerugian ditaksir mencapai Rp 4 miliar.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
