
Ipda Farizal pendiri Pondok Pesantren.
Sambil berurai air mata Ipda Farizal berkata, "Saya tanya ke masyarakat kenapa anak ini nggak sekolah? Dijawab orang tuanya mereka tidak mampu sekolahkan anak itu,".
Oleh: Desyinta Nuraini
Polisi bertubuh gempal dengan seragam lengkap dan peci putih itu tampak ceria menyambut kedatangan saya dan rombongan dari Mabes Polri, Selasa (31/7) kemarin. Begitu pula dengan sejumlah masyarakat sekitar yang berjejer rapih di halaman cukup luas menyalami kami dengan senyum merekah.
Wajah kami yang lelah setelah menempuh perjalanan darat selama satu jam 53 menit dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, seketika pun berubah usai mendapat sambutan hangat dari mereka. Sengatan matahari pun menjadi tak terasa ketika tubuh-tubuh mungil berseragam sopan ikut menyambut.
Semula saya mengira polisi yang belakangan bernama Farizal itu hanya seorang Bhabinkamtibmas biasa. Namun ternyata apa yang dilakukannya sungguh patut diacungi jempol.
Ipda Farizal yang terlihat sederhana itu ternyata pendiri Pondok Pesantren Raudhatus Sakinah yang kami sambangi. Berada di tengah hutan karet dan sawit di Tulung Sawo, Dusun VIII Semingin Jaya, Desa Pulau Geronggan, Kecamatan Pedamaran Timur, hanya ada beberapa bangunan di tempat yang terbilang cukup luas.
Satu bangunan sekolah dengan empat ruang, empat pondokan, satu aula, sebuah masjid terlihat di sana. Namun yang menarik perhatian, ada dua bangunan seperti gubuk dikelilingi semak belukar, tampak beralas tikar dan beratap terpal di sana.
"Kami baru punya empat lokal (ruang kelas). Lokal untuk Tsanawiyah. Yang Ibtidaiyah di sini (menunjuk pondokan seperti gubuk)," kata Farizal.
Dia pun bercerita awal mula membangun Pondok Pesantren Raudhatus Sakinah. Semula pada 1995, Frizal ditugaskan untuk menjaga Pos Polisi Kayulabu, Pedamaran Tikur, OKI. Dia juga merangkap tugas sebagai bintara pembinanaan dan keamanan ketertiban masyarakat (Babinkamtibmas).
Ketika bertugas, keliling desa pun dilakukannya. Dilihatnya masyarakat yang mayoritas program transmigrasi di wilayah Desa Pulau Geronggan itu serba kekurangan. Anak-anak mereka pun tak bersekolah.
"Saya tanya ke masyarakat kenapa anak ini nggak sekolah? Dijawab orang tuanya mereka tidak mampu sekolahkan anak itu. Saya lihat juga anak lain tidak sekolah," kisah Farizal seraya terisak mengingat awal mula dia bertugas di sana.
Ya, jarak menjadi alasan mengapa anak-anak di Desa Pulau Geronggan mayoritas tak bersekolah. Sebab, butuh waktu berkilo-kilo untuk mencapai sekolah yang ada di desa tetangga.
"Dari Tugu Pacul ke sini sudah hampir enam kilo, baru temu pondok. Dari sini ke SP Tiga hampir delapan kilo. Ke Kayulabu bisa 20 kilo," beber Farizal.
Dia juga melihat lingkungan di desa itu pun tidak baik. Anak-anak remaja banyak yang melakukan kenakalan remaja seperti minum-minjman keras, judi, hingga pencurian dengan kekerasan.
Melihat fakta-fakta tersebut, tercetuslah keinginan Farizal ingin membangun sebuah sekolah tempat belajar dan juga membangun akhlak. Dia lantas mengumpulkan masyarakat, tokoh, dan pejabat desa untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
