Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Juli 2018 | 03.30 WIB

Mall Modern Menjamur, Begini Nasib Kawasan Bersejarah Pasar Baru

Kawasan Pasar Baroe Jakarta Pusat. - Image

Kawasan Pasar Baroe Jakarta Pusat.


JawaPos.com - Kondisi Passer Baroe atau yang dikenal Pasar Baru ternyata tidak seperti sekarang. Menjadi Pusat perbelanjaan sejak 1820, Pasar Baru diketahui ramai pengunjung bahkan dari berbagai daerah di Indonesia.


Untuk diketahui, Pasar Baru mulanya dibangun untuk melengkapi dua pasar besar sebelumnya, yaitu Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Menurut informasi, kedua Pasar tersebut dibangun pada 1730-an.


Salah satu pedagang kaca mata, Bahri, 60 mengakui sudah berjualan sejak 1988 di Pasar Baru. Dirinya menyadari perubahan signifikan dalam penjualannya adalah sepinya pengunjung dibandingkan berpuluh-puluh tahun yang lalu.


"Dulu itu ramai, sekarang sepi. Dulu kan nggak ada pertokoan modern dan mall gitu kan sekarang sudah banyak jadi orang juga sudah tidak terlalu tertarik belanja kemari," jelas Bahri saat ditemui JawaPos.com, di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6).


Dirinya menyatakan pertama kali berjualan di Pasar Baru, dirinya selalu kebanjiran pengunjung baik dari masyarakat lokal maupun daerah. Bahkan, sebelum jaman Reformasi dirinya mengakui tidak bisa berjualan di siang hari karena kawasan dijaga ketat oleh Koramil.


"Dagangnya malam saja dulu, toko doang yang boleh karena dijaga Koramil bolehnya masuk jam 19.00 malam, ini bisa kesini dagang sejak reformasilah sekarang juga sifatnya kucing-kucingan," jelas pria yang berdomisili di Cawang, Jakarta Selatan ini.


Hal yang sama juga dirasakan pedagang uang kuno, Sofyat, 79. Dia menjelaskan banyak perbedaan selama dia berjualan di Pasar Baru baik dari pengunjung maupun pedagang yang selalu berganti-ganti.


"Tempatnya dulu nggak kayak begini, pendek-pendek dulu sekarang mah banyak bangunan baru. Ada sih Toko Kompak itu yang lama itu tingkat satu-satunya dulu peninggalan Belanda," jelasnya.


Menurutnya, dahulu orang dari berbagai daerah selalu ke Pasar Baru untuk membeli keperluan dan perlengkapan bergaya. Bahkan tidak hanya daerah, Pasar Baru menjadi primadona para turis berbelanja murah meriah.


"Sekarang di daerah banyak bangunan mall di daerah juga, jadi pasti mereka mending ke Mall daripada ongkos kesini. Anak muda emang banyak sih kesini kalau main-main doang tapi," tutur pria renta ini.


Sebelum zaman Reformasi, sekitar tahun 1970 dirinya menjual uang Dolar. Setelah itu, ia pun beralih menjual Rupiah kuno yang biasanya dicari untuk koleksi bahkan mahar kawin untuk menikah.


Berdasarkan pantauan JawaPos.com, kawasan ini memang sepi oleh pengunjung. Para pedagang pun terlihat kesulitan dalam memikat para pengunjung membeli dagangannya. Namun, tidak dipungkiri wisatawan asing masih  mendatangi kawasan ini untuk melihat betapa uniknya bangunan tersebut.


"Kesini saya sama keluarga iseng aja, lihat-lihat barang kalau ada yang cocok. Sekalian foto-foto di depan yang bangunan besar itu. Kekuranganya barangnya disini kurang modern aja sih, kalau mau menarik pengunjung harus update dong," tutur Sani, 53 salah satu pengunjung asal Kemayoran.


Seiring berkembangnya zaman menjadi modern, Pasar Baru pun semakin sepi peminat. Namun, walaupun begitu Pasar Baru masih memikat hati para wisatawan, untuk sekedar berfoto dibalik bangunan bersejarahnya ataupun berbelanja.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore