Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Agustus 2017 | 18.45 WIB

Isu WNA Tiongkok Dapat Lahan di Luwu Timur Merebak, Ternyata...

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Belakangan muncul kabar soal imigran gelap asal Tiongkok yang telah membuka lahan untuk tanaman Lada di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur. Kabarnya pula, ini sudah berlangsung sejak 2016.


Wakil Ketua Komisi I DPRD Luwu Timur, Herdinang, mengatakan telah mendapat kabar adanya warga Tiongkok yang membuka lahan yang cukup luas di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti.
"Saya belum pernah bertemu orang tersebut. Tapi pak Kepala Desa Bantilang Arifin sudah kita hearing di Komisi I,'' kata Herdinang kepada Fajar (Jawa Pos Group), Jumat (25/8) lalu.


Namun informasi dari Kepala Desa Bantilang, Arifin bahwa orang tersebut bukan dari Tiongkok asli. Yang bersangkutan merupakan hanya keturunan Tionghoa yang tinggal di Makassar. "Bukan imigran gelap. Kesbangapol dan instansi terkait telah membahas isu ini. Hanya saja, pria asal Desa Bantilang, Towuti tidak pernah berkunjung ke lokasi kebun seluas 100 hektare tersebut. Apakah yang dipekerjakan orang lokal atau orang asing.
"ungkapnya.


Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam mengatakan isu adanya warga Tiongkok yang menggarab lahan kebun di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti sejak tahun lalu. ''Isu itu tidak benar. Setelah diselidiki ternyata bukan orang Tiongkok asli, tapi keturunan yang sudah menetap di Indonesia,''kata Irwan. Orang tersebut bernama Haji Iskandar yang selama ini menetap di Makassar.


Haji Iskandar ini awalnya merupakan kontraktor PT Vale yang mensuplai alat berat. Dia merupakan mualaf. Namun kemungkinan permintaan alat berat lesu di PT Vale sehingga beralih. Yang bersangkutan membeli dan membuka lahan kebun lada. Luas lahan yang dibuka seluas 100 hektare. Dia merupakan Baba Hong.


Itu merupakan nama panggilan bagi keturunan Tionghoa yang berada di Luwu Timur. Kebetulan yang dipekerjakan menggarap lahan kebun lada merupakan warga asal Bangka Belitung. Makanya, hasil ladanya cukup bagus. Saat itu, harga lada mencapai Rp150 ribu per kilogram. ''Heboh, karena booming harga lada saat itu. Sekarang harga lada hanya Rp65 ribu per kilogram,'' paparnya.

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore