
Ketua DKN Garda Bangsa, Cucun Ahmad Sjamsurizal
JawaPos.com - Sebanyak 200 santri putra dan putri se-Indonesia akan mengikuti malam final Musabaqah Kitab Kuning (MKK), yang digelar mulai besok hingga Sabtu (22/7).
Rencananya, kegiatan yang diinisiasi Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa ini dihelat di Graha Gus Dur, Cikini, Jakarta Pusat.
"Final MKK kali ini merupakan satu rangkaian kegiatan menyambut Harlah ke-19 PKB. Dengan total hadiah yang diperebutkan mencapai angka Rp500 juta, plus umroh," ujar Ketua DKN Garda Bangsa, Cucun Ahmad Sjamsurizal, Kamis (20/7).
Menurut Cucun, mereka-mereka yang berhak terbang ke Jakarta dan mengikuti final MKK merupakan santri terbaik dari masing-masing daerah. Sebab, sebelum mereka berangkat ke Jakarta, para santri terlebih dahulu berkompetisi dengan rekan-rekan sejawatnya di daerah.
"Yang terbaiklah yang terpilih. Saya berharap di final nanti mereka mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, serta tampil menjadi jawara," katanya.
Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPR itu menambahkan, pembukaan malam final MKK rencananya dihadiri Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H Abdul Muhaimin Iskandar, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muh Nasir, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo dan beberapa pengurus teras DPP PKB.
"MKK kali ini merupakan gelaran kedua. Jumlah peserta yang mengikuti pun membeludak, mencapai angka 2000 jiwa di seluruh Indonesia dengan ketegori ula dan ulya," kata Cucun.
Cucun menambahkan, adapun kitab yang dilombakan dari mulai babak penyisihan hingga final tetap sama, yakni Kitab Fathul Qorib, Nadham Imrithi, Kitab Ihya Ulumiddin serta Nadham Alfiyah Ibnu Malik.
"Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya melombakan kitab Ihya Ulumiddin. Adapun babak final MKK tingkat Ula dengan kitab Fathul Qorib dan NadhamImrithi. Sedangkan tingkat Ulya adalah kitab Ihya Ulumiddin dan Nadham Alfiyah Ibnu Malik," katanya.
Esensi penyelenggaraan MKK sesungguhnya, menurut Cucun, adalah menjaga dan melestarikan khazanah-khazanah intelektual pesantren yang merupakan ciri khas dalam mengembangkan pendidikan karakter. Serta dalam rangka menjaga tradisi Islam Ahlus Sunnah Waljamaah.
"MKK ini wajib dijaga dan dilestarikan sebagai tradisi intelektual pondok pesantren dalam rangka mengembangkan Islam Ahlus Sunnah waljamaah," tutup dia.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
