
NUANSA HANGAT: Elemen kayu pada interior klop dengan tone dominan putih. Kamar tidur berada di lantai 1. (Foto: Richo Wirawan)
Hunian yang berlokasi di Tulungagung, Jawa Timur, ini memiliki tampilan luar yang berbeda dengan rumah-rumah di sekitar. Layout ruangan pun menyesuaikan preferensi owner. Lantai 1 menjadi oase pribadi, lantai 2 sebagai jantung aktivitas sosial.
JIKA pada kebanyakan rumah biasanya ruang tamu berada di lantai 1 setelah entrance, tidak demikian TGA House. Tamu akan langsung disambut tangga menuju lantai 2. Layout hunian di Tulungagung, Jawa Timur, itu sengaja menempatkan ruang publik di lantai 2.
Hal tersebut dilakukan untuk merespons kebutuhan owner akan ruang berkumpul yang memadai. Sebab, acara keluarga dapat berlangsung beberapa hari dengan durasi cukup lama.
”Tangga diletakkan di luar dekat entrance untuk memudahkan pengunjung langsung ke area publik sehingga penghuni rumah tidak terganggu keramaian dan akses menuju ruang privat lebih mudah,” ungkap architectural designer Studio Anom Works Ardhi Ismana.
NUANSA HANGAT: Elemen kayu pada interior klop dengan tone dominan putih. Dining area di lantai 2. (Foto: Richo Wirawan)
Dengan konsep itu, ruang lantai 1 berfungsi khusus untuk ruang pribadi. Terdiri atas dapur, ruang makan, kamar tidur utama, dan kamar mandi. Dapur berada pada sisi depan rumah bersanding dengan entrance sebagai batasan dengan area privat.
Ruang keluarga di lantai 2 difungsikan ketika ada kegiatan dengan dilengkapi balkon yang cukup lega. Balkon berada di samping belakang bangunan fasad sehingga privasi tetap terjaga dari jalanan di depan.
Balkon yang lebih minimalis menjadi aksen tunggal pada fasad monoton tanpa ornamen. Terdapat permainan garis lengkung di bagian bawah balkon untuk mencegah garis vertikal yang dominan.
”Karena terletak di permukiman padat, kami perlu menghadirkan bangunan yang sederhana tapi tetap ikonik. Warna putih yang dominan pada fasad menambah kesan ikonik dan bersih,” beber Kanoasa Akbar yang juga desainer Studio Anom Works.
Fasad masif dengan minim bukaan mencegah debu masuk lantaran jarak bangunan dan jalanan lingkungan relatif dekat. Pagar perforated metal membatasi area luar dan dalam rumah dengan transparansi yang dapat diatur bergantung kerapatan lubang.
Dari luar tertutup, tidak dengan di dalamnya. Ardhi dan Kano concern pada pencahayaan serta sirkulasi alami. Mereka berupaya menghadirkan cross ventilation dan skylight.
Begitu pun pada TGA House. ”Tidak mungkin mengandalkan cahaya alami masuk hanya dari area taman. Kami memanfaatkan material perforated metal sebagai lantai pada lantai 2 untuk dapat memasukkan cahaya ke bawahnya,” paparnya. (lai/c7/nor)
---
HIGHLIGHT
CLEAN: Wajah TGA House dengan bentuk segitiga dan aksen lengkung pada balkon mempermanis fasad. Warna putih memberi kesan bersih. (Foto: Richo Wirawan)

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
