
PEREMPUAN TANGGUH: Fatmawati belum memutuskan untuk pensiun dari angkat besi.
Usianya sudah tidak muda lagi. Pada PON XX/2020 di Papua nanti, usia Fatmawati mendekati 50 tahun. Namun, di cabang olahraga angkat besi kelas 58 kg, dia menjadi momok bagi lifter-lifter perempuan lainnya.
Nuris Andi P., Jakarta
PADA PON XIX/2016 di Jawa Barat lalu, Fatmawati masih membuktikan kehebatannya. Dia mempersembahkan medali perak di kelas 58 kg bagi daerahnya, Riau. Dengan total angkatan 190 kg, perempuan kelahiran 18 Februari 1972 itu hanya kalah oleh lifter Jawa Timur Acchedya Jagaddhita. Selisihnya 11 kg.
’’Itu pun kondisi saya masih cedera hamstring,’’ kenangnya. Fatma –sapaan Fatmawati– berkiprah di angkat besi sejak 1989. Acchedya yang merupakan putri pelatih angkat besi nasional Mg Supeni sering digendong Fatma sewaktu kecil.
’’Ibaratnya melawan anak sendiri. Bahagia juga dia yang bisa kalahkan saya,’’ bebernya. Pada 18 Februari lalu, Fatma baru memasuki usia 45 tahun, tiga tahun lagi usianya sudah 48 tahun. Untuk ukuran cabor angkat besi, usia itu akan menjadi usia tertua buat lifter yang masih aktif di Indonesia.
Pada 2020, PON diselenggarakan di Papua. Tetapi, Fatma belum berpikir untuk mengakhiri kiprahnya di pentas multievent nasional tersebut. Bagi dia, tampil di ajang empat tahunan itu tidak hanya mengobati rasa kangennya terhadap kompetisi. ’’Tetapi, juga sebagai pembuktian sekaligus memberikan perlawanan buat anak-anak muda,’’ kata nenek Anindita, bayi berusia 1 tahun 10 bulan, itu.
Mg Supeni memberikan apresiasi besar terhadap Fatma. ’’Saya acungi jempol buat Kak Fatma. Saya yakin dia juga bahagia kalah dari anak saya,’’ ujar Supeni.
Bagi Fatma, kunci kesuksesan dalam menekuni angkat besi yang penuh tempaan fisik adalah disiplin. Mentalitas juara juga dia jaga. Fatma, yang kini juga melatih lifter muda di Cibinong, melihat lifter muda saat ini lebih gampang menyerah.
Dibandingkan dengan perjalanannya menjadi lifter nasional, kata Fatma, tidak ada apa-apanya. Fatma sudah melewati berbagai cobaan dan tantangan selama menjadi lifter nasional. Untuk bisa menjadi lifter hebat, dia memang mengorbankan banyak waktu bersama keluarga. Anak-anaknya harus rela waktu ibunya tersita untuk berlatih dan bertanding.
’’Kini saya harus membayarnya (kehilangan waktu, Red) buat anak-anak,’’ ujar ibunda Kelvin Yudha Pratama, M. Yusuf Oksaputra Daryanto, dan Muhammad Mario Putra Daryanto tersebut. (*/c7/tom)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022