Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Juni 2018 | 20.43 WIB

LKB Dorong Budaya Betawi Masuk Muatan Lokal di Sekolah

Ketua LKB, Beki Marda ikut meramaikan HUT DKI Jakarta ke-491 di Ancol, Jakarta Utara (ketiga dari kiri) - Image

Ketua LKB, Beki Marda ikut meramaikan HUT DKI Jakarta ke-491 di Ancol, Jakarta Utara (ketiga dari kiri)

JawaPos.com - Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) mengapresiasi kinerja Pemerintah dalam mengembangkan kebudayaan Betawi. Mesi masih belum seluruhnya, LKb melihat semua sedang masuk dalam proses implementatif.


Lembaga yang didirikan mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin itu melihat budaya Betawi selalu memiliki tantangan tersendiri dalam melestarikannya. Sejak 1976, LKB sebagai mitra Pemprov DKI Jakarta terus mendorong agar budaya Betawi semakin maju.


Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi, Beki Marda memandang Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah memakai political willnya dalam menjadikan budaya Betawi sebagai identitas Ibu Kota DKI Jakarta.


"Sebenarnya sudah tertera dalam Pergub, yaitu melestarikan budaya Betawi bersama budaya nasional lain. Dengan implementasinya sudah ada di Perda Pelestarian Budaya," tutur Beki saat ditemui JawaPos.com di Ancol, Jakarta Utara, Jumat (22/6).


"Ini sesuatu yang Istimewa bagi kita para seniman Betawi karena sudah memiliki pijakan hukumnya. Sekarang tinggal bagaimana Perda dan Pergub bisa implementatif," tambahnya.


Dirinya menjelaskan dalam Perda Pelestarian Budaya sudah tercantum segala ornamen dan segala kebudayaan Betawi. Namun, baru ada beberapa yang ditetapkan sebagai Peraturan Gubernur salah satunya tentang ikon.


Dia melihat ikon dan simbolik bagus tapi belum cukup. Ada yang lebih strategis seperti muatan lokal karena diajarkan ke sekolah dan anak didik. Pengenalan kebudayaan bisa lebih baik.


"Soalnya saya lihat jika disampaikan ke sekolah-sekolah jadi bukan hanya ikonik yang tercipta tapi juga nilai-nilai, ini penting," terangnya.


Bahkan, lanjut Beki, pengenalan muatan lokal budaya Betawi di sekolah dapat membuahkan nilai-nilai egaliter, religius, dan terbuka. Sehingga, bisa menyatukan dan mengikat seluruh rakyat di Jakarta.


"Ini tidak ternilai bagaimana bisa menjadi perekat budaya nasional sehingga jadi Ibukota, ini yang perlu ditularkan. Bisa diterima dan bisa menerima ini sumbangsih yang harus kita beritahukan sejak dini," tegas Beki.


Di HUT DKI Jakarta ke-491, Beki melihat ada tantangan tersendiri untuk memasukkan budaya Betawi menjadi bagian hidup anak milenial. Namun hanya ada satu cara, menurutnya, yaitu pola sosialisasi harus menyesuaikan dengan zaman sekarang.


"Harus bisa lebih kreatif, kita mesti paham dinamika masyarakat karena 40 persen sudah milenial makanya pola sosialisasi harus disesuaikan. Ini saya tekankan juga pada pelaku seniman dan budayawan, kita gabisa pakai cara lama harus dengan diskusi dan dialog untuk mencari cara agar budaya Betawi bisa selalu lestari," tutur Beki.


Pasalnya, Beki melihat faktor kesulitan budaya Betawi masuk ke anak muda bukan karena faktor internal saja. Melainkan, adapula faktor eksternal seperti budaya asing yang terus menekan dari berbagai aspek.


"Makanya political will Gubernur sangat dibutuhkan, ini yang dipertaruhkan bukan ikon betawi saja tetapi nilai-nilai yang dipertaruhkan. Ini memang masih harus diperjuangkan bersama," pungkasnya.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore