Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Juni 2018 | 23.00 WIB

Soal Tong Sampah Impor, Risma Sebut Sudah Lama Sarankan DKI Memakainya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat meninjau GOR Pancasila, Jalan Indragiri, Surabaya. - Image

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat meninjau GOR Pancasila, Jalan Indragiri, Surabaya.

JawaPos.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melanjutkan impor tong sampah buatan Jerman sebanyak 2.640 unit. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini lantas ikut menanggapinya.


Risma berpendapat, wajar saja jika Pemprov DKI mengimpor tong sampah jenis Garage Bin yang mahal. Dia sendiri sejak awal pemerintahannya juga menggunakan alat angkut sampah sejenis sejak 2010. Namanya compactor.


Namun, Risma mengaku tidak terlalu mengetahui harga pasti compactor yang sekarang digunakan untuk angkut sampah. Dia juga tidak tahu pasti dari negara mana compactor diimpor. "Saya nggak tahu berapa harganya. Kami pun waktu (pengadaan compactor) itu tender," kata Risma ditemui wartawan di GOR Pancasila, Selasa (5/6)


Menurut Risma, ada sejumlah keuntungan jika menggunakan alat angkut sampah mahal tersebut. Pertama, tong sampah impor memiliki ketahanan fisik yang mumpuni. Mengingat sebagai kota besar, jumlah penduduk di Jakarta dan Surabaya cukup tinggi. Dengan kondisi tersebut, tentu butuh alat yang kuat untuk menampung dan mengangkut tumpukan sampah dalam jumlah besar.


Itulah kenapa, dia pernah menyarankan agar DKI Jakarta ikut menggunkan compactor. ''Kita sudah pakai tong sampah itu lebih dulu daripada Jakarta. Aku dulu ngomong, DKI harusnya sudah pakai. Kalau nggak bagaimana cara ambil sampahnya. Pasti berat (saat petugas mengambil sampah)," tutur Risma.


Selain itu, alat angkut sampah di Jakarta dan Surabaya juga punya kelebihan lain. Compactor atau dustbin mampu mengangkut sampah dengan kapasitas yang lebih banyak. Sehingga dapat menghemat biaya operasional pengangkutan sampah sehari-hari. "Kapasitasnya satu setengah kali lebih banyak. Juga lebih bersih karena (compactor) tertutup rapat," jelasnya.


Saat ini sampah diangkut menggunakan compactor ke tempat pembuangan sampah (TPS). Lalu sampah akan di-screening (proses pemilahan sampah). Proses itu dilakukan untuk memisahkan antara sampah yang dapat didaur ulang dan menghasilkan uang dengan yang tidak. Cara tersebut terbukti ampuh menurunkan tumpukan sampah dari 3.600 ton menjadi 1.300 ton per hari.


Saran itu, tampaknya didengar Pemprov DKI Jakarta. Sebab, Risma tahu kalau sejak 2016 mulai ada pengadaan tong sampah di Jakarta. ''Kalau nggak salah, dua tahun lalu atau setahun lalu, mereka sudah pakai compactor," katanya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore