Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Agustus 2026 | 04.30 WIB

7 Kebiasaan Buruk yang Sebenarnya Bisa Bermanfaat bagi Kehidupan Anda Menurut Psikologi

seseorang yang menunda pekerjaan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap kebiasaan buruk harus dihilangkan sepenuhnya. Menunda pekerjaan, melamun, mengeluh, bahkan merasa malas sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan atau kegagalan dalam mengatur diri. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa perilaku manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar "baik" atau "buruk".


Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (6/8), beberapa kebiasaan yang sering dianggap negatif justru memiliki fungsi psikologis yang penting. Kebiasaan tersebut dapat membantu otak beristirahat, meningkatkan kreativitas, memperkuat hubungan sosial, hingga melindungi kesehatan mental. Tentu saja, manfaat ini hanya muncul jika dilakukan dalam batas yang wajar dan tidak berubah menjadi pola yang merugikan.

Lalu, kebiasaan buruk apa saja yang ternyata memiliki sisi positif? Berikut penjelasannya.

1. Menunda Pekerjaan (Prokrastinasi) Bisa Memicu Kreativitas

Prokrastinasi sering dianggap sebagai musuh produktivitas. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa menunda pekerjaan dalam waktu singkat dapat memberikan kesempatan bagi otak untuk memproses informasi secara tidak sadar.

Ketika seseorang berhenti sejenak sebelum menyelesaikan tugas, pikirannya tetap bekerja di balik layar. Proses ini sering menghasilkan ide-ide baru yang lebih kreatif dibandingkan jika pekerjaan dilakukan secara terburu-buru.

Misalnya, seorang desainer yang menunda menyelesaikan konsep logo selama beberapa jam mungkin justru menemukan inspirasi yang lebih segar saat kembali bekerja.

Namun, perlu diingat bahwa manfaat ini hanya berlaku untuk penundaan yang disengaja dan masih terkendali. Jika pekerjaan terus ditunda hingga melewati tenggat waktu, dampaknya tentu akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

2. Melamun Membantu Otak Beristirahat

Saat melamun, banyak orang menganggap dirinya sedang membuang waktu. Faktanya, psikologi menjelaskan bahwa ketika pikiran mengembara, otak mengaktifkan jaringan yang disebut Default Mode Network (DMN).

Jaringan ini berperan dalam refleksi diri, penyusunan rencana masa depan, serta menghubungkan berbagai pengalaman menjadi ide baru.

Tak heran jika banyak orang mendapatkan solusi terhadap masalah justru ketika sedang mandi, berjalan santai, atau memandangi langit.

Melamun dalam durasi yang wajar juga dapat membantu mengurangi stres karena otak memperoleh kesempatan untuk beristirahat dari fokus yang terus-menerus.

3. Mengeluh Secukupnya Dapat Mengurangi Beban Emosi

Mengeluh sering dicap sebagai kebiasaan negatif karena dianggap menunjukkan sikap pesimis. Akan tetapi, psikologi membedakan antara mengeluh yang konstruktif dan mengeluh tanpa henti.

Mengungkapkan rasa kecewa kepada orang yang dipercaya dapat menjadi bentuk pelepasan emosi (emotional release). Setelah emosi negatif dikeluarkan, seseorang biasanya lebih tenang dan mampu berpikir jernih untuk mencari solusi.

Sebaliknya, jika mengeluh dilakukan terus-menerus tanpa niat memperbaiki keadaan, kebiasaan tersebut justru dapat memperkuat pola pikir negatif.

Artinya, mengeluh bukanlah masalah selama diikuti dengan tindakan nyata untuk memperbaiki situasi.

4. Bersikap Malas Terkadang Menandakan Tubuh Membutuhkan Istirahat

Istilah "malas" sering digunakan untuk menyalahkan diri sendiri. Padahal, rasa malas tidak selalu berarti seseorang kurang disiplin.

Dalam banyak kasus, rasa malas muncul karena tubuh mengalami kelelahan fisik atau mental. Otak memberi sinyal bahwa energi sudah menurun sehingga seseorang membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Memaksakan diri bekerja tanpa jeda justru berisiko menyebabkan kelelahan berkepanjangan (burnout), menurunkan konsentrasi, dan mengurangi kualitas pekerjaan.

Karena itu, mendengarkan sinyal tubuh dan mengambil waktu istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan strategi menjaga kesehatan mental dan produktivitas jangka panjang.

5. Bermimpi di Siang Hari Dapat Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah

Daydreaming atau bermimpi di siang hari sering dianggap sebagai gangguan konsentrasi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ini membantu otak menghubungkan berbagai informasi yang sebelumnya tampak tidak berkaitan.

Orang-orang kreatif, seperti penulis, ilmuwan, maupun seniman, sering kali mendapatkan ide terbaik saat pikirannya bebas mengembara.

Selain meningkatkan kreativitas, daydreaming juga membantu seseorang membayangkan tujuan masa depan, merencanakan langkah-langkah yang akan diambil, dan meningkatkan motivasi untuk mencapainya.

Kuncinya adalah tetap mampu kembali fokus ketika diperlukan.

6. Perfeksionisme Ringan Dapat Meningkatkan Kualitas Hasil Kerja

Perfeksionisme sering dikaitkan dengan kecemasan dan tekanan psikologis. Memang benar, perfeksionisme yang berlebihan dapat menghambat seseorang menyelesaikan pekerjaan.

Namun, psikologi juga mengenal istilah adaptive perfectionism, yaitu keinginan untuk menghasilkan pekerjaan terbaik tanpa kehilangan fleksibilitas.

Orang dengan perfeksionisme yang sehat cenderung lebih teliti, memiliki standar kerja tinggi, dan tidak mudah puas dengan hasil yang asal-asalan.

Selama seseorang tetap realistis dan mampu menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, sifat ini justru dapat menjadi keunggulan.

7. Menyendiri Sesekali Menjaga Kesehatan Mental

Sebagian orang menganggap kebiasaan menyendiri sebagai tanda antisosial. Padahal, psikologi menjelaskan bahwa menikmati waktu sendirian merupakan kebutuhan bagi banyak individu.

Menyendiri memberi kesempatan untuk mengevaluasi diri, mengelola emosi, serta memulihkan energi setelah berinteraksi dengan banyak orang.

Bahkan bagi mereka yang sangat ekstrover sekalipun, waktu tenang tanpa gangguan dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kejernihan berpikir.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang terus-menerus mengisolasi diri hingga mengganggu hubungan sosial dan aktivitas sehari-hari.

Mengapa Kebiasaan Buruk Bisa Memiliki Manfaat?

Psikologi memandang perilaku manusia berdasarkan konteks. Tidak semua kebiasaan yang terlihat buruk akan selalu memberikan dampak negatif. Banyak perilaku muncul sebagai mekanisme adaptasi untuk membantu seseorang menghadapi tekanan, mengelola emosi, atau menghemat energi.

Masalah biasanya muncul ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara berlebihan hingga mengganggu pekerjaan, kesehatan, atau hubungan dengan orang lain.

Karena itu, yang terpenting bukan sekadar menghilangkan semua kebiasaan yang dianggap buruk, melainkan memahami kapan kebiasaan tersebut masih memberikan manfaat dan kapan harus mulai dikendalikan.

Kesimpulan

Tidak semua kebiasaan buruk benar-benar buruk. Menurut psikologi, beberapa perilaku yang sering dipandang negatif ternyata memiliki sisi positif jika dilakukan dalam batas yang sehat. Menunda pekerjaan dapat memicu kreativitas, melamun membantu otak beristirahat, mengeluh dapat melepaskan emosi, rasa malas bisa menjadi sinyal tubuh untuk beristirahat, daydreaming meningkatkan kreativitas, perfeksionisme ringan memperbaiki kualitas kerja, dan menyendiri membantu menjaga kesehatan mental.

Intinya, keseimbangan adalah kunci. Alih-alih menghakimi diri sendiri karena memiliki kebiasaan tertentu, cobalah memahami alasan di balik perilaku tersebut. Dengan begitu, Anda dapat memanfaatkan sisi positifnya sekaligus mencegah dampak negatif yang mungkin muncul jika dilakukan secara berlebihan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore