
seseorang yang memiliki selera yang mengikuti tren (Freepik/ake1150sb)
JawaPos.com - Di balik setiap rumah, ada cerita tentang penghuninya. Cara seseorang menata ruang bukan sekadar soal estetika, tetapi juga cerminan kepribadian, nilai hidup, bahkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Ada rumah yang terasa hangat sejak langkah pertama masuk, dan ada pula yang terlihat “sempurna” di kamera, namun terasa kosong saat dihuni.
Menariknya, perbedaan antara selera yang tulus dan sekadar mengikuti tren sering kali bisa dikenali hanya dari beberapa pilihan dekorasi. Bukan dari harga furnitur atau merek terkenal, melainkan dari niat di balik setiap sudut ruang.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (2/1), terdapat 7 pilihan dekorasi rumah yang secara halus, namun jujur, mengungkap apakah seseorang benar-benar memiliki selera pribadi—atau hanya sekadar ikut arus.
1. Furnitur dengan Cerita, Bukan Sekadar Etalase Katalog
Orang dengan selera yang tulus biasanya memilih furnitur karena rasa keterhubungan, bukan karena sedang viral. Meja makan warisan keluarga, kursi kayu hasil berburu di pasar loak, atau rak buku buatan pengrajin lokal—semuanya mungkin tak “sempurna”, tetapi punya jiwa.
Sebaliknya, rumah yang hanya mengejar tren sering dipenuhi furnitur seragam, seolah baru keluar dari satu katalog yang sama. Cantik, rapi, namun terasa anonim. Tidak ada cerita, tidak ada keunikan, hanya pengulangan visual yang aman.
2. Warna Dinding yang Dipilih dengan Perasaan, Bukan Ketakutan
Pilihan warna adalah cermin kejujuran. Selera yang tulus berani memilih warna yang membuat mereka nyaman, meski tidak sedang populer. Bisa jadi krem hangat yang menenangkan, hijau zaitun yang dewasa, atau bahkan warna gelap yang intim.
Sementara itu, mereka yang hanya mengikuti tren sering terjebak pada warna “aman” karena takut salah: putih polos, abu-abu dingin, atau beige yang sedang naik daun. Bukan karena suka, tetapi karena takut dinilai.
3. Dekorasi Dinding yang Personal, Bukan Sekadar Estetik Instagram
Rumah dengan selera sejati biasanya memajang hal-hal bermakna: foto perjalanan, karya seni favorit, ilustrasi anak, atau kutipan yang benar-benar dihayati.
Berbeda dengan rumah yang hanya mengejar estetika tren—dipenuhi poster generik, tipografi motivasi tanpa makna, atau lukisan abstrak mahal yang sebenarnya tak pernah “berbicara” pada pemiliknya. Indah dipandang, tapi hampa secara emosional.
4. Tanaman yang Dirawat, Bukan Sekadar Properti Visual
Tanaman hidup adalah simbol komitmen. Orang dengan selera tulus memilih tanaman karena menikmati proses merawatnya, memahami karakternya, dan sabar melihatnya tumbuh.
Sebaliknya, rumah yang hanya mengikuti tren sering menampilkan tanaman sebagai aksesoris semata—dipilih karena fotogenik, lalu dibiarkan layu atau diganti dengan tanaman plastik. Cantik di awal, tetapi cepat kehilangan makna.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022