Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Juli 2025 | 05.20 WIB

Orang yang Tidak Pernah Merasakan Cinta yang Sehat Sering Menganggap 8 Perilaku Beracun Ini sebagai Hal Normal

Ilustrasi. (Pexels.com) - Image

Ilustrasi. (Pexels.com)

JawaPos.com - Tak semua orang memiliki kehidupan cinta yang mujur. Alih-alih dilimpahi oleh cinta yang sehat, mereka justru harus menjalani hubungan beracun dengan pasangan yang toxic.

Bahayanya? Mereka yang bertahan di hubungan toxic seringkali menganggap perilaku red flag dari pasangannya sebagai hal yang wajar. Bahkan mereka tidak keberatan untuk menerimanya.

Dilansir dari VegOut, berikut delapan perilaku beracun yang kerap dianggap wajar oleh mereka yang belum pernah mengalami cinta yang sehat dan mengapa begitu sulit untuk melepaskannya.

1. Mengira Konflik sebagai Keintiman

Ketika konflik menjadi patokan, ketenangan terasa membosankan. Debar jantung akibat pertengkaran sangat mungkin disalahartikan sebagai bukti cinta. 

Padahal keintiman sejati justru tumbuh di ruang-ruang kecil: tawa di dapur, percakapan ringan sebelum tidur, dan ya menumpahkan kopi di meja tanpa drama.

Ironisnya, hubungan penuh intensitas justru menghalangi keintiman. Terlalu sibuk mengelola konflik, sampai tidak pernah benar-benar mengenal pasangan di luar gaya bertengkar.

2. Mencatat Skor Seperti Perlombaan

"Giliranmu cuci piring."
"Aku yang terakhir minta maaf, ingat?"

Dalam hubungan yang sehat, memberi dan menerima terjadi secara alami. Tapi bagi yang terbiasa hidup dalam dinamika transaksional, setiap tindakan harus seimbang. 

Ada rasa takut dimanfaatkan jika tidak mencatat semuanya. Akhirnya, cinta pun dihitung layaknya buku utang piutang.

Masalahnya, hubungan bukan akuntansi. Jika semua tindakan harus ‘dibayar’, kapan ada ruang untuk kemurahan hati?

3. Pengawasan Disamarkan Sebagai Kepedulian

Berbagi password. Melacak lokasi satu sama lain. Mengecek pesan secara berkala. Semua dibungkus dalam kalimat manis: “Aku hanya peduli.”

Tapi kepedulian sejati memberi ruang, bukan mencuri ruang. Transparansi itu pilihan, bukan kewajiban. Pasangan yang sehat tetap memiliki identitas individu. Mereka memilih untuk berbagi, bukan dipaksa menyatu tanpa batas.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore