Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 April 2026 | 00.47 WIB

Orang yang Belum Pernah Mengalami Cinta yang Sehat Selalu Salah Mengartikan 9 Tanda Red Flags Ini sebagai Gairah Menurut Psikologi

seseorang yang tidak mengalami cinta yang sehat. (Freepik/hubmovel68) - Image

seseorang yang tidak mengalami cinta yang sehat. (Freepik/hubmovel68)

JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa hubungan yang penuh emosi, intens, dan naik-turun adalah tanda cinta yang “hidup”.

Padahal, dalam psikologi, intensitas tidak selalu berarti kedalaman. Sering kali, orang yang belum pernah merasakan cinta yang sehat justru keliru menafsirkan tanda-tanda bahaya (red flags) sebagai bentuk gairah atau chemistry yang kuat.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena pengalaman masa lalu, pola keterikatan (attachment), dan luka emosional membuat seseorang terbiasa dengan dinamika yang tidak stabil. Akibatnya, hal-hal yang sebenarnya tidak sehat terasa “normal”—bahkan memikat.

Dilansir dari Expert Editor, tanda 9 tanda red flags yang sering disalahartikan sebagai gairah:

1. Hubungan yang Terlalu Cepat (Love Bombing)

Di awal hubungan, semuanya terasa sempurna—perhatian berlebihan, pujian terus-menerus, bahkan pembicaraan masa depan dalam waktu singkat.

Disalahartikan sebagai: cinta yang besar dan langka
Padahal: ini bisa menjadi bentuk manipulasi emosional untuk menciptakan ketergantungan

Dalam psikologi, ini disebut love bombing, yang sering digunakan untuk “mengikat” seseorang sebelum sisi asli muncul.

2. Cemburu Berlebihan Dianggap Bukti Cinta

Pasangan yang posesif sering terlihat seperti sangat peduli.

Disalahartikan sebagai: “Dia takut kehilangan aku”
Padahal: ini adalah tanda kontrol dan rasa tidak aman yang tidak sehat

Cinta yang sehat memberi ruang, bukan membatasi.

3. Drama yang Terus-Menerus

Bertengkar, putus-nyambung, emosi meledak-ledak—lalu kembali mesra.

Disalahartikan sebagai: hubungan yang penuh gairah
Padahal: ini adalah siklus ketidakstabilan emosional

Otak bisa “kecanduan” naik-turun emosi ini karena mirip roller coaster dopamin.

4. Perasaan Cemas Saat Tidak Bersama

Merasa gelisah, overthinking, atau takut kehilangan secara berlebihan.

Disalahartikan sebagai: cinta yang dalam
Padahal: ini sering kali adalah anxious attachment

Cinta yang sehat justru memberi rasa aman, bukan kecemasan.

5. Mengorbankan Diri Secara Berlebihan

Selalu mengalah, mengabaikan kebutuhan sendiri demi pasangan.

Disalahartikan sebagai: bentuk cinta sejati
Padahal: ini bisa menjadi self-abandonment

Hubungan sehat adalah tentang keseimbangan, bukan pengorbanan sepihak.

6. Pasangan Sulit Ditebak (Hot and Cold)

Kadang sangat perhatian, lalu tiba-tiba menjauh tanpa alasan jelas.

Disalahartikan sebagai: misterius dan menantang
Padahal: ini menciptakan ketergantungan emosional

Ketidakpastian membuat otak terus “mengejar” validasi.

7. Mengabaikan Batasan Pribadi

Pasangan tidak menghormati ruang pribadi, waktu sendiri, atau keputusanmu.

Disalahartikan sebagai: kedekatan yang intens
Padahal: ini pelanggaran batas (boundary violation)

Cinta tidak seharusnya menghilangkan identitas diri.

8. Selalu Merasa Harus “Menyelamatkan” Pasangan

Kamu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan atau perubahan pasangan.

Disalahartikan sebagai: cinta tanpa syarat
Padahal: ini dinamika rescuer syndrome

Hubungan sehat tidak dibangun dari peran “penyelamat”.

9. Merasa Tidak Pernah Cukup

Kamu terus berusaha lebih agar dicintai—tapi tetap merasa kurang.

Disalahartikan sebagai: motivasi untuk menjadi lebih baik
Padahal: ini tanda hubungan yang merusak harga diri

Cinta yang sehat membuatmu merasa cukup, bukan terus merasa kurang.

Mengapa Ini Terjadi?

Dalam psikologi, pola ini sering berasal dari:

Pengalaman masa kecil yang tidak stabil secara emosional
Hubungan sebelumnya yang toxic
Kebutuhan akan validasi eksternal
Ketidaktahuan tentang seperti apa cinta yang sehat

Otak manusia cenderung menganggap sesuatu yang familiar sebagai “aman”, bahkan jika sebenarnya tidak sehat.

Seperti Apa Cinta yang Sehat?

Sebagai perbandingan, cinta yang sehat terasa:

Tenang, bukan penuh kecemasan
Konsisten, bukan naik-turun ekstrem
Mendukung pertumbuhan, bukan menguras energi
Menghormati batasan, bukan melanggarnya
Memberi rasa aman, bukan ketidakpastian
Penutup

Tidak semua yang terasa intens adalah cinta. Kadang, itu hanyalah luka lama yang bertemu dengan pola yang sama. Mengenali perbedaan antara gairah dan red flags adalah langkah penting untuk keluar dari siklus hubungan yang tidak sehat.

Cinta yang benar tidak membuatmu kehilangan diri sendiri—justru membantu kamu menjadi versi terbaik dari dirimu.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore