Ilustrasi seseorang yang senang mendengarkan musik tetapi tidak pernah mengingat lirik
JawaPos.com - Bagi sebagian orang tua, membiarkan anak-anak bermain dengan makanan sering dianggap sebagai tindakan tidak sopan atau kurang disiplin.
Banyak yang memilih melarang anak mengacak-acak makanan karena takut akan berantakan, buang-buang makanan, atau mengganggu etika makan.
Namun, menurut psikologi perkembangan anak, membiarkan anak "bermain" dengan makanan dalam konteks yang sehat ternyata bisa membawa dampak positif jangka panjang terhadap kepribadian dan kemampuan sosial-emosional mereka saat dewasa.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (29/7), anak-anak yang dibiarkan untuk menyentuh, mengeksplorasi, mencium, mengacak, dan bahkan mencampur makanan tanpa rasa takut akan dimarahi ternyata memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dengan enam kekuatan kepribadian yang kuat dan positif.
Apa saja kekuatan tersebut? Berikut penjelasan lengkapnya menurut sudut pandang psikologi:
1. Rasa Ingin Tahu dan Kreativitas Tinggi
Anak-anak yang bermain dengan makanan belajar mengenal tekstur, warna, bau, dan bentuk melalui eksplorasi langsung.
Hal ini memperkuat rasa ingin tahu alami mereka.
Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, pengalaman sensorik pada usia dini sangat penting dalam membentuk kemampuan berpikir abstrak dan imajinatif.
Anak-anak yang terbiasa bereksperimen dengan hal-hal sederhana seperti makanan, kelak cenderung memiliki imajinasi luas, tidak takut mencoba hal baru, dan mampu berpikir "di luar kebiasaan" (out of the box).
Ketika anak diizinkan menyentuh dan mengatur makanannya sendiri—meskipun berantakan—mereka merasa diberi kepercayaan.
Hal ini memperkuat perasaan bahwa mereka mampu mengendalikan sebagian dari lingkungannya.
Dalam psikologi perkembangan, ini disebut sebagai bentuk "autonomi awal".
Anak-anak yang mengalami ini cenderung tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani mengambil keputusan, dan tidak terlalu bergantung pada persetujuan eksternal.
3. Regulasi Emosi yang Lebih Baik
Bermain dengan makanan bisa menjadi sarana ekspresi emosi bagi anak-anak.
Misalnya, saat mereka stres, bingung, atau sekadar gembira, mereka mungkin menunjukkan ekspresinya melalui makanan yang mereka susun atau bentuk.
Aktivitas semacam ini membantu anak belajar mengenali dan menyalurkan emosi dengan cara yang aman.
Dalam jangka panjang, ini membentuk individu yang lebih mampu mengelola perasaan mereka sendiri dan menghadapi tekanan emosional dengan cara yang sehat.
4. Fleksibilitas dalam Berpikir dan Sikap
Anak-anak yang sering diberikan ruang untuk mencoba hal-hal “tidak biasa”—termasuk bermain dengan makanan—tumbuh dengan pola pikir yang lebih terbuka.
Mereka tidak mudah panik saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, dan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan.
Psikologi menyebut ini sebagai "cognitive flexibility", atau keluwesan kognitif, yaitu kemampuan untuk melihat suatu situasi dari berbagai sudut pandang dan mengubah pendekatan bila diperlukan.
Orang-orang seperti ini biasanya lebih sukses dalam dunia kerja dan hubungan sosial karena tidak kaku dalam berpikir.
5. Kepekaan Sensorik yang Seimbang
Mengeksplorasi makanan dengan tangan, mulut, dan hidung adalah bentuk pembelajaran sensorik.
Anak-anak yang melakukannya secara bebas cenderung memiliki sistem sensorik yang terlatih dan seimbang.
Kepekaan sensorik ini berguna bukan hanya untuk mengenal rasa makanan, tetapi juga dalam mengasah empati.
Orang yang terhubung dengan inderanya dengan baik biasanya lebih peka terhadap emosi orang lain karena mereka belajar mengenali sinyal tubuh secara lebih halus.
6. Hubungan Positif dengan Makanan dan Tubuh Sendiri
Bermain dengan makanan sejak kecil membantu anak mengembangkan hubungan yang positif dengan makanan—bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, menggemukkan, atau penuh larangan.
Anak-anak ini biasanya tumbuh menjadi individu yang tidak terlalu terobsesi atau bermasalah dengan makan, dan lebih menerima tubuh mereka apa adanya.
Mereka juga lebih terbuka terhadap mencoba makanan baru, yang berarti mereka bisa menjaga pola makan seimbang tanpa banyak tekanan atau rasa bersalah.
Penutup: Bermain dengan Makanan Bukan Berarti Tak Beradab
Penting untuk dicatat bahwa yang dimaksud "bermain dengan makanan" dalam konteks psikologis bukan berarti membuang-buang makanan atau bersikap tidak menghargai berkah.
Ini lebih kepada memberikan ruang eksplorasi, tanpa penekanan berlebihan pada keteraturan atau kesopanan yang belum sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Dengan pendekatan yang tepat—yaitu membiarkan anak menyentuh dan mengeksplorasi makanan dalam situasi yang terkontrol—orang tua sebenarnya sedang menanamkan fondasi kepribadian kuat yang akan membawa manfaat besar di masa depan.
Jadi, jika Anda melihat seorang anak kecil sedang meremas wortel atau menyusun nasi menjadi "gunung", mungkin Anda sedang menyaksikan cikal bakal dari seorang pemimpin kreatif, penyelesai masalah ulung, atau individu yang sehat secara emosional di masa dewasa.