Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Juli 2025 | 02.34 WIB

Orang yang Hanya Berpura-pura Baik-Baik Saja Seringkali Menunjukkan 7 Perilaku Ini Tanpa Sadar

Ilustrasi. (Pexels.com) - Image

Ilustrasi. (Pexels.com)

JawaPos.com - Pernah bertemu seseorang yang tampak baik-baik saja di permukaan, tapi terasa ada yang janggal? Mungkin senyumnya terlalu lebar, atau kalimat “Aku baik-baik saja!” meluncur terlalu cepat. 

Hal tersebut bisa jadi tanda dari orang yang sedang kesulitan namun berpura-pura sebaliknya bahkan tanpa mereka sadari. Ini bukan kepura-puraan yang disengaja, melainkan respons bawah sadar terhadap tekanan batin yang belum terselesaikan.

Entah sedang mencemaskan teman, memperhatikan rekan kerja, atau mungkin mengenali pola dalam diri sendiri dan memahami tanda-tanda ini bisa menjadi awal dari koneksi yang lebih dalam dan proses penyembuhan yang sejati. 

Kadang, hal paling berani yang bisa dilakukan adalah mengakui bahwa diri ini sedang tidak baik-baik saja. Berikut tujuh perilaku yang kerap muncul ketika seseorang hanya berpura-pura baik-baik saja, seperti dilansir dari VegOut.

1. Mengalihkan Pembicaraan dari Diri Sendiri

Ada orang yang seolah jago memutar balik percakapan? Ketika ditanya soal kabar, mereka malah balik bertanya tentang rencana akhir pekanmu. Ketika seseorang khawatir pada mereka, mereka justru fokus membahas masalah orang lain.

Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, melainkan bentuk perlindungan diri. Membicarakan diri sendiri terasa berisiko. Bagaimana jika tanpa sengaja mengungkap terlalu banyak? Bagaimana jika emosi tumpah dan sulit dikendalikan?

Mengalihkan perhatian seperti ini memang terasa lebih aman, tapi juga menciptakan jarak dalam hubungan. Alih-alih koneksi yang hangat, yang muncul justru tembok halus yang menyembunyikan luka.

2. Menjadi Terlalu Menyenangkan

Orang yang biasanya punya pendapat kini selalu berkata, “Terserah kamu saja.” Atau rekan kerja yang dulu suka berdiskusi kini hanya mengangguk setuju pada apa pun.

Sikap terlalu akomodatif ini seringkali menutupi kelelahan emosional. Ketika hidup terasa terlalu berat, bahkan memilih makanan atau menyampaikan preferensi bisa jadi beban. Mengikuti arus jadi cara termudah untuk bertahan.

Ada juga alasan lain: menyenangkan orang lain membuat mereka kecil kemungkinannya untuk bertanya lebih dalam. Kepuasan orang lain jadi benteng pelindung dari pertanyaan yang bisa membongkar isi hati.

3. Terlalu Produktif Secara Berlebihan

Tiba-tiba seseorang menjadi mesin produktivitas: menyelesaikan proyek tambahan, menata ulang rumah, pergi ke gym dua kali sehari, dan ikut berkontribusi dalam banyak kegiatan.

Dari luar, terlihat mengagumkan. Tapi seringkali, ini adalah cara untuk menghindari keheningan karena dalam keheningan, emosi yang sulit muncul ke permukaan. Kesibukan jadi pelarian dari kekacauan batin.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore