Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 November 2024 | 02.59 WIB

Gastrodiplomasi ala Ika Petra Moerbeek, Bikin Café Warung Pas di Amsterdam dengan Konsep Warmindo

BIKIN PENASARAN: Ciri khas rentengan ala warung tradisional Indonesia ini sering ditanyakan pengunjung lokal. (DOKUMENTASI IKA PETRA MOERBEEK) - Image

BIKIN PENASARAN: Ciri khas rentengan ala warung tradisional Indonesia ini sering ditanyakan pengunjung lokal. (DOKUMENTASI IKA PETRA MOERBEEK)

Dari lidah turun ke hati. Berawal kenal cita rasa, bisa jatuh cinta. Kuliner Indonesia yang sangat beragam jenisnya itu coba disebarkan oleh diaspora kepada masyarakat dunia. Gastrodiplomasi. Tak hanya disajikan lewat menu, tapi juga suasana makan yang sedapat mungkin serupa dengan kultur tanah air.

AYAM geprek, nasi bakar, bakwan jagung, tempe mendoan, sampai mi instan populer Indonesia tersaji di Café Warung Pas, Amsterdam. Yang unik, ada rentengan minuman saset, snack, sampai bumbu kering. Persis seperti warung-warung tradisional di tanah air.

Berada di lokasi strategis Noordwal dengan view dermaga dekat Central Station menambah ambience asyik ketika bersantap. Ika Petra Moerbeek adalah sosok di balik Café Warung Pas ini. ”Saya ingin mengenalkan konsep warung Indonesia, casual dining. Kebanyakan tempat makan di sini cita rasanya sudah disesuaikan dengan lidah lokal. Nah, saya ingin menu-menunya seotentik mungkin, termasuk level pedasnya,” beber Petra, sapaannya.

Sejak Café Warung Pas berdiri Juli lalu, respons pengunjung antusias terhadap konsep yang baru mereka jumpai tersebut. Space lebih di lantai 1 dijadikan warmindo atau warung makan Indomie. ”Makan mi instan ini kan semacam comfort food ya dan ternyata konsepnya diterima dengan hangat. Makan santai ala di warung,” tutur perempuan asal Jogja tersebut.

Menu khas Indonesia di Café Warung Pas. (DOKUMENTASI IKA PETRA MOERBEEK)

Urusan dapur, Petra in-charge penuh. Semua menu masih Petra yang memasak. ”Ada staf yang bantu potong-potong bahan dan untuk serving ada dari kolaborator tempatnya,” terang Petra.

Petra yang berlatar pendidikan arsitektur menemukan passion memasak ketika pandemi. ”Di masa isolasi itu, ketika sulit bertemu langsung, makanan bisa menyatukan koneksi antarorang,” ungkapnya.

Sejak kecil di Jogja, Petra sering melihat sang ibu, mbah, dan orang-orang di sekitarnya memasak. ”Tapi, saya baru eksplor masak waktu (pandemi) korona itu,” lanjut perempuan yang tinggal di Amsterdam sejak kuliah pada 2010 tersebut.

Warung berada di lokasi strategis Noordwal dengan view dermaga. Teras di lantai 1 dijadikan warmindo. di(DOKUMENTASI IKA PETRA MOERBEEK)

Sang kekasih request dimasakkan rendang saat ultah. Petra berusaha memenuhi tantangan itu. ”Surprisingly berhasil, enak. Wah kalau udah bisa bikin rendang yang complicated, bisa nih berarti masak menu-menu lainnya,” tutur Petra. Kebetulan, bahan-bahan masakan Indonesia mudah didapatkan di Amsterdam.

Petra lantas mengulik resep-resep menu khas Indonesia dan mulai open order lewat Instagram. Hampir empat tahun berjalan, dia ingin punya tempat yang bisa mempertemukan global citizen untuk mengenal ragam kuliner Indonesia. ”Jadilah Café Warung Pas ini,” sebutnya. ”Oh ya, yang rentengan itu part of interior aja, buat menambah ambience,” lanjutnya.

Buat orang Indonesia di Amsterdam, bisa mengobati rasa kangen menu-menu khas tanah air dan suasana makannya. Mereka yang datang seringnya tidak sendiri, bawa 1, 2, 3, bahkan lebih teman. ”Pengunjungnya mayoritas warlok (warga lokal) dan dari berbagai negara,” ujarnya. Ada kolaborasi musik dengan Jiwa Jiwa Records yang menyuguhkan musik Nusantara, memperkaya pengalaman pengunjung.

Pernah suatu ketika Petra bareng beberapa teman membuat konsep liwetan, makan bareng dengan nasi dan berbagai kondimen lauk dan sayur. Banyak yang tertarik.

Pernah juga Petra bikin beraneka sambal, mulai sambal dabu-dabu, sambal matah, sambal embe, sambal bawang, sampai sambal kelapa Aceh. ”Itu juga banyak yang pengin coba. Meski level kepedasannya beda ya. Pengunjung yang orang Indonesia sanggup level 10 (10 rawit), pengunjung lokal sampai level 3 atau 3 rawit,” urai Petra yang memiliki darah Belanda dari sang papa.

CASUAL DINING: Ika Petra Moerbeek menyapa dan menjelaskan menu khas Indonesia kepada pengunjung lokal. (DOKUMENTASI IKA PETRA MOERBEEK)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore