Pagit-Pagit, Kuliner Ekstrem Karo Berbahan Dasar Isi Perut Lembu. (Best Ever Food Review Show/ YouTube.com)
JawaPos.com - Hidangan kuliner khas Indonesia memang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Di Sumatera Utara, ada beberapa makanan ekstrem yang bisa ditemukan.
Salah satu makanan ekstrem khas suku Karo yang sangat tidak biasa adalah pagit-pagit atau orang juga menyebutnya trites.
Salah seorang vlogger Amerika yang mengulas berbagai makanan di penjuru dunia, Will Sonbuchner alias Sonny Side pernah mencicipi langsung hidangan ekstrem dari tanah Karo ini.
Dalam akun YouTube-nya, Best Ever Food Review Show, Sonny Side juga ikut terlibat dalam pembuatan hidangan yang terbuat dari bahan yang tidak biasa.
Gelagat Sonny Side yang jenaka, memperlihatkan bahwa trites atau pagit-pagit memiliki aroma yang begitu khas saat diperas untuk diambil sarinya.
Berdasarkan laman pariwisata.karokab.go.id pada Selasa (23/04), pagit-pagit atau trites adalah makanan khas Karo yang terbuat dari bahan pokok utama makanan kerbau atau lembu yang masih berada dalam lambung.
Orang awam sering menyebut makanan ini terbuat dari 'tinja lembu' padahal tinja yang dimaksud adalah hasil kunyahan rumput yang dimakan hewan ruminansia yang masih belum selesai dicerna oleh sistem pencernaan.
Rumput hasil kunyaan tersebut masih berada di lambung lembu atau kerbau dan belum menjadi tinja yang berada di ujung usus besar, sehingga pagit-pagit bukanlah tinja yang sebenarnya.
Trites didapatkan dari lambung kerbau atau lembu yang disajikan di acara-acara adat khusus, bisa dikatakan makanan ini juga termasuk hidangan khusus istimewa.
Bahan baku trites di masa kini bisa didapatkan dari lambung sapi yang harganya bisa lebih terjangkau.
Pada dasarnya pagit-pagit hanya dihidangkan saat acara-acara adat, kini hidangan ekstrem ini bisa ditemukan di warung-warung makanan khas Karo yang sering disebut 'BPK' atau kependekan dari Babi Panggang Karo.
Makanan ini disebut dengan pagit-pagit karena rasa dasarnya yang memang 'pahit' dan berbau amis saat belum dimasak.
Trites yang diambil dari lambung kerbau/ lembu/ sapi kemudian diberi air untuk kemudian diperas untuk diambil sari-sarinya.
Serat atau ampas dari perasan trites tidak disertakan untuk dikonsumsi. Perasan dari trites akan dijadikan bahan kuah dari pagit-pagit.
Pagit-pagit akan dimasak bersama jeroan hewan potong atau daging hewan potong yang dibumbui dengan rempah-rempah yang kaya seperti kelapa, serai, cabe, bawang-bawangan, kunyit, asam patikala, dan daun jeruk.
Pagit-pagit biasa dicampur atau disajikan bersama rebusan daun pucuk ubi atau daun singkong muda.
Karena bentuknya hampir menyerupai soto, kadang makanan ini disebut sebagai 'soto karo.'
Sari perasan dari trites membuat kuah dari makanan ini memiliki tekstur yang kental dan 'creamy' karena telah ditambah dengan parutan kelapa.
Trites yang merupakan hasil kunyahan rumput dan dedaunan menjadikan kuah dari pagit-pagit berwarna hijau kecoklatan. Warna hijau dari kuah makanan memang tidak biasa pada hidangan Indonesia secara umum.
Sonny Side menceritakan pengalamannya dalam menyantap pagit-pagi. Hidangan ini memiliki rasa yang kental dan lembut meski dibumbui dengan rempah yang kaya.
Ada rasa pahit yang terkadang muncul berselang setelah menyeruput kuah dari pagit-pagit. Bau amis yang muncul saat memeras trites seketika hilang setelah dimasak bersama bumbu rempah.
Indonesia memiliki keberagaman budaya, bahasa, hingga makanan yang sangat tidak biasa. Keberagaman ini yang menjadikan makanan Indonesia juga istimewa, berani coba?