JawaPos.com - Tahun Baru Imlek identik dengan makanan khasnya, seperti Misoa dan Kue Keranjang yang disajikan dan dimakan bersama dengan keluarga.
Seorang etnis Tionghoa, Jimmy Sutanto menjelaskan, Misoa adalah salah satu jenis makanan olahan dari mi dan biasanya menu ini dihidangkan pada pagi hari.
"Dimakan bersama waktu pagi. Pagi menghormati orang tua dulu baru makan bersama," kata Jimmy, dikutip dari Radar Jogja (Jawa Pos Group), pada Sabtu (10/2).
Selain itu, ketua Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta menyebut sajian mi tersebut dianggap sebaga simbol dari umur panjang dan penangkal nasib buruk bagi orang Tionghoa.
Misoa dipercaya memiliki kemampuan memperpanjang umur seseorang berkat filamennya yang panjang dan tipis.
"Itu melambangkan panjang umur. Memang warga Tionghoa wajib harus ada menu itu. Rasanya kayak bakmi tapi bahannya dari misoa putih," jelasnya, dikutip dari Radar Jogja.
Menu mi satu ini sangat wajib dihidangkan di hari pertama tahun baru Imlek dan hari-hari berikutnya bebas menghidangkan menu lainnya.
Bahan yang diperlukan juga sangan mudah didapatkan serta waktu pengerjaanya terbilang cepat dan mudah. Misoa disajikan dengan menu pendukung lainnya.
Selain menu utama mi, kemudian ada juga daging ayam, sayur bunga kincam, jamur kuping hitam, dan rumput laut hitam sebagai pelengkap.
Selanjutnya Kue Keranjang, kue satu ini tidak bisa dipisahkan dari Tahun Bahan Imlek.
Kue keranjang biasa disebut dengan nian gao ini menyimpan kisah pahit dalam sejarah penemuannya.
Pada masa itu, Tiongkok dialiri oleh dua sungai besar yakni Sungai Yangtze dan Sungai Huang He yang dikenal dengan Sungai Kuning.
Wilayah yang dialiri kedua sungai ini sering dilanda banjir disetiap musim semi tiba, karena salju yang mencair dan mengakibatkan air sungai meluap.
Banjir yang berlangsung tersebut cukup lama dan mendorong masyarakat sekitar untuk membuat makanan yang tahan lama.
Dengan bahan dari sampuran beras ketan dan gula yang dikenal dengan sebutan kue keranjang.
"Bisa untuk membantu kekurangan makanan, bulat merupakan simbol dari kebersamaan lalu berlangsung terus sampai ribuan tahun," terang Jimmy, dikutip dari Radar Jogja.
Kemudian nama kue keranjang didapat tersebut berasal dari cetakannya yang terbuat dari semacam keranjang yang dibungkus dengan daun.
Meskipun kini telah digantikan dengan alumunium untuk mencetak kue yang mirip dengan jenang dodol, masyarakat tetap menyebutnya dengan sebutan kue keranjang.
"Tidak pakai pengawet, komposisinya gula 50 persen dan tepung ketan itu sendiri menjamin awet dan tahan lama," jelasnya.
***