Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Maret 2021 | 00.05 WIB

Lontong Cap Go Meh di Surabaya, Kondimen sebagai Ciri Khas

KHAS: Meillisa Tirtasari, warga Kapasan (kampung pecinan), saat plating lontong cap go meh. Perayaan akhir Imlek atau disebut Cap Go Meh selalu diramaikan warga Kapasan, Surabaya, Jumat (26/2). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos) - Image

KHAS: Meillisa Tirtasari, warga Kapasan (kampung pecinan), saat plating lontong cap go meh. Perayaan akhir Imlek atau disebut Cap Go Meh selalu diramaikan warga Kapasan, Surabaya, Jumat (26/2). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

KAUM peranakan Tionghoa di Jawa biasa menyajikan lontong cap go meh pada tanggal 15 bulan pertama kalender lunar. Lontong cap go meh ini, menurut praktisi kuliner Bondan Winarno di buku 100 Mak Nyus Jakarta, menghadirkan banyak simbol akulturasi budaya Tionghoa-Jawa.

Potongan lontong bulat dianggap mewakili bentuk bulan purnama yang muncul di tanggal 15. Opor ayam dan sambal goreng hati sapi dalam tradisi Jawa merupakan masakan spesial yang tidak hadir di hari-hari kebanyakan. Misalnya saat Lebaran atau upacara selamatan.

Di Surabaya, lontong cap go meh tersebar di berbagai kawasan dan kedai. Tiap-tiap tempat santap ini memiliki ciri khas dalam penyajian. Inilah beberapa di antaranya.

Rebung Jadi Kunci di KWP Kapasan Dalam


Photo

(Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

KAMPUNG Wisata Pecinan (KWP) di kawasan Kapasan Dalam, Simokerto, tidak boleh dilewatkan jika berburu rasa otentik lontong cap go meh. Depot yang menyatu dengan rumah bisa ditemukan di wilayah ini. Baik saat ada festival kuliner maupun di hari-hari biasa.

Tahun ini merupakan festival kuliner perdana Cap Go Meh yang digelar KWP. Beragam sajian dimasak warga. Namun, satu yang wajib ada, lontong cap go meh.

Jika melewatkan festival ini, pemburu setia kuliner tidak perlu khawatir. Ada warga di KWP yang menjajakan lontong cap go meh di rumahnya. Bahkan sudah tersedia di aplikasi pesan makan secara online.

Meski banyak yang menyajikan menu ini, dari semua itu ada satu kesamaan. Yakni, menggunakan sayur lodeh rebung. Tidak ada yang menggunakan sayur manisa. ’’Kalau menggunakan manisa pasti rasanya beda, tidak sesedap memakai rebung,” ujar Syeni, salah seorang pembuat lontong cap go meh.

Dari lontong cap go meh yang disajikan saat festival itu, semuanya seirama. Udang dan petai tidak ketinggalan menjadi penguat rasa yang diberikan. Kuahnya juga lebih pekat dan berlemak santan.

Baru kemudian kreasi lauk tambahan dan topping disesuaikan dengan selera dan tradisi keluarga. Mulai ayam kari atau opor, telur pindang atau telur petis, juga sambal goreng kentang atau daging. Lalu taburan koya, ada yang menggunakan bubuk kedelai, serundeng, dan ebi. Namun, ada juga yang hanya memakai dua di antaranya saja.

Soal rasa, hanya memainkan dari segi kepekatan kuah yang digunakan. Lalu melimpah atau tidaknya bumbu yang dipakai. Aroma sayur rebung yang khas benar-benar membekas bagi siapa pun yang menikmati lontong cap go meh dari KWP Kapasan Dalam ini. 

Areh Bumbu Pelengkap Cita Rasa Solo di Gudeg Bu Toegijo


Photo

(Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

JIKA ingin menikmati sajian lontong cap go meh yang memiliki cita rasa pedas-manis, pilihan bisa jatuh ke depot Gudeg Bu Toegijo di Gubeng Kertajaya. Menurut generasi ketiga pemilik kedai, Nizar Gilang Pratama, lontong cap go meh sudah menjadi hidangan tetap kedai yang didirikan pada 1971 itu sejak era 1990-an.

Latar belakang dapur Solo memberikan sentuhan rasa berbeda pada menu sajian yang eksis di kalangan peranakan ini. Dari segi rasa hingga racikan. Seporsi lengkap lontong ini terdiri atas sayur manisa plus rebung, ayam opor suwir, dan telur bacem. Kemudian taburan bawang goreng, bubuk kedelai, dan serundeng kelapa sebagai pelengkap.

Sayur manisa atau labu siam bercampur rebung dimasak dengan santan tipis. Penguat rasa ada pada rebon yang dimasak bersama. Rasa yang lebih ringan dari kuah sayur sangat pas dipadu dengan guyuran areh ke atas ayam.

Areh yang terbuat dari santan kelapa dimasak lama hingga mengeluarkan minyak alami ini benar-benar memainkan peran sebagai penyeimbang dari rasa dominan manis sayur dan aroma daun salam. Makin lengkap saat dicampur dengan sambal bajak yang pedas dan gurih.

Gilang mengatakan, meskipun ada campuran rebung, perbandingannya sangat kecil. Tunas bambu hanya digunakan sebagai pembangkit aroma.

Daging Bumbu Bali agar Lebih Melokal di Depot Bu Tetty


Photo

(Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

SEPIRING lontong cap go meh Bu Betty tampil cantik dengan sayur manisa yang jingga kemerahan. Kari ayam, daging bumbu bali, dan telur rebus pun hadir di sana. Sebagai finishing touch, ada taburan dua bubuk yang berbeda. Yakni, tumbukan kedelai dan ebi. Menurut generasi kedua Depot Bu Betty, Siany Irawati, sejak awal pendirian lokasi warungnya di Pasar Atom Tahap II tak pernah berubah.

Kuah sayur di depot yang berdiri sejak 1987 itu sedikit lebih pekat santannya. Semakin kental saat dikombinasikan dengan kari ayam yang berlemak. Perpaduan ini menciptakan rasa gurih yang intens dengan manis tipis. Apalagi saat berpadu dengan bubuk ebi dan kedelai. Aroma udang menguar harum saat disantap.

Baca Juga: Gara-gara Mengerem Mendadak, Dokter Reza Dianiaya Empat Mahasiswa

Daging bumbu bali mengenalkan lidah dengan kombinasi rasa yang baru. Rasa manis dan tekstur daging mengimbangi sensasi gigitan lontong yang lembut. Masakan Bu Betty wani bumbu ini membalut lontong yang cenderung hambar menjadi media pengikat rasa.

Daging bumbu bali ini merupakan menu pengganti dari sambal goreng kentang yang biasa ditemui pada lontong cap go meh gagrag Jawa Tengah. Siany mengatakan, daging bumbu bali lebih pas di lidah orang Jawa Timuran.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/LdSIrsKKqXw

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore