Begitu banyak durian yang menyajikan rasa manis atau pahit. Namun, tidak banyak ”si raja buah” lokal asal Jatim yang memiliki rasa asin. Salah satunya adalah durian kukus.
---
MESKI letaknya tak jauh dari kawasan pesisir pantai, Desa Pundungsari, Kecamatan Tempursari, masuk dalam golongan daerah dataran tinggi. Sebab, desa itu berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Posisi geografis itulah yang membuat desa di wilayah Kabupaten Lumajang tersebut cukup terkenal sebagai salah satu penghasil buah durian. Beragam varietas lokal tumbuh di sana. Sebagian di antaranya sudah terkenal.
Di antara sekian varietas lokal asal Pundungsari, ada satu durian yang memiliki keunikan yang jarang ditemui pada jenis lokal lainnya. Namanya, durian kukus. Jenis tersebut menjadi salah satu andalan di desa itu.
Diberi nama durian kukus karena bentuknya yang mirip dengan kukusan nasi. Dalam satu pohon, bentuk buahnya nyaris sama. ”Yang berbeda adalah warnanya. Lebih variatif. Di setiap pohon, ada yang kuning atau yang hijau. Namun, yang kuning lebih dominan,” kata Agus Salim, ketua Kelompok Tani Desa Pundungsari kepada Jawa Pos Radar Semeru.
Ciri lain varietas itu adalah jumlah biji buahnya yang banyak. Di dalam satu buah, ada yang mencapai 20 biji dengan ukuran sedang.
Yang membuat durian tersebut benar-benar mempunyai ciri khas adalah rasanya yang begitu unik. Warga desa itu menyebutnya campur aduk. Sebab, selain rasa manis dan sedikit pahit, penikmat bisa merasakan nuansa asin.
Agus menyatakan, rasa yang khas itu sedikit banyak dipengaruhi letak pohonnya yang berada di daerah pesisir. ”Durian-durian di desa ini memang memiliki ciri khas tersendiri,” ucapnya.
Rasa khas itulah yang membuat durian kukus paling banyak diminati. ”Karena rasanya cocok dengan lidah,” kata pria asli Desa Pundungsari tersebut.
Pada masa panen seperti ini, durian kukus yang jatuh dari pohonnya bisa mencapai ratusan. Sebab, setiap menit, pasti ada yang jatuh, pertanda bahwa buah itu sudah matang. Tak ada tali pengaman. Buah jatuh secara alamiah dan langsung diambil pemilik.
Soal harga, durian itu tergolong murah. Terutama jika membeli langsung dari petani. Untuk buah yang bagus, harga tertingginya mencapai Rp 30 ribu. Sementara itu, harga yang kualitas sedang Rp 15 ribu.
Selain durian kukus, di Pundungsari banyak terdapat varietas lokal lainnya. Para pengunjung yang mampir ke desa itu bisa mencicipi durian secara langsung di kebun milik para petani.
Selain dijual secara langsung, durian asal Pundungsari dikirim ke berbagai daerah. Sebaran terbanyaknya ke Malang dan Kediri.





