Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Agustus 2023 | 17.14 WIB

Nuansa Tempo Doeloe di Griya Alit Blambangan: Destinasi dan Wahana Edukasi

 

Suasana bernuansa antik di Griya Alit Blambangan, Banyuwangi.

JawaPos.com - Destinasi yang satu ini mengusung konsep yang unik. Menyajikan perpaduan keasrian alam serta benda-benda kuno nan antik dari masa ke masa. Sederet apresiasi pun sukses diraih.

Lokasinya berada di belakang kantor Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh. Hanya butuh waktu 40 menit perjalanan dari pusat kota Banyuwangi menuju destinasi wisata purbakala tersebut.

Begitu masuk ke Griya Alit Blambangan, pengunjung disambut tumpukan kayu berusia tua yang ditutup terpal. Ada pintu, jendela, kayu bekas perahu, rumah oseng, dan gentong yang ditata rapi.

Nuansa klasik makin terasa saat traveller tiba di padepokan. Deretan guci tanah liat berjejer di pintu gerbang. Suasananya mirip zaman kerajaan. Apalagi lokasinya berada di sekitar kebun yang masih rindang dan sejuk.

Setelah melintasi gerbang gapura, pandangan pengunjung akan disuguhi dengan ribuan koleksi barang antik yang tertata rapi. Mulai peralatan rumah tangga seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, lampu gantung, guci, gelas, piring, mangkuk, loyang, setrika, hingga sentolop (senter).

Ada juga alat komunikasi, mulai telepon, televisi, radio, tape recorder, kaset pita, hingga corong toa. Tidak hanya itu, juga ada berbagai jenis alat transportasi seperti sepeda kayuh, sepeda motor, dokar, cikar, dan becak.

Ada pula berbagai jenis hiasan dinding, yaitu lukisan, wayang kulit, wayang golek, gerabah, keris, tombak, dan masih banyak jenis benda lainnya.

Semua ditata rapi di bawah bangunan rumah adat khas oseng Banyuwangi di atas lahan seluas 1,5 hektare. Tak heran, Griya Alit Blambangan menjadi jujukan para fotografer yang ingin hunting spot klasik.

’’Tempat ini sering digunakan untuk syuting foto pre wedding dan pembuatan video klip,” ujar Murai Ahmad, pemilik Griya Alit Blambangan.

Murai juga mengoleksi peralatan masak kuno seperti tungku kayu, sublukan, kukusan, panci, cangkir, loyang, dan peralatan masak lainnya.

’’Saya mengoleksi benda-benda tersebut sekaligus sebagai media edukasi kepada generasi milenial sekarang. Bahwa sebelum ada peralatan yang modern, alat-alat kuno ini pernah digunakan,” jelasnya.

Sebagian koleksi peralatan kuno klasiknya juga masih berfungsi. Misalnya, tape recorder dan radio kuno. ’’Jika ada anak-anak muda yang berkunjung, sesekali juga kami putarkan. Sehingga mereka tahu secara langsung cara kerja barang-barang kuno tersebut,’’ jelas Ketua Papdesi (Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia) Banyuwangi itu.

Konsep yang diusung Murai mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya budayawan Banyuwangi Juwono. ”Beliau rela berkorban demi memelihara dan melestarikan benda-benda lawas,” jelas komisi musik tradisi Dewan Kesenian Blambangan itu.

Sebagai apresiasi, Juwono turut memberi nama sanggar itu, yaitu Sanggar Tepis Wiring atau sanggar tepi sungai. Sedangkan, nama Griya Alit Blambangan diberikan oleh almarhum Sahuni, seniman dan budayawan Banyuwangi. (ddy/aif/c6/ris)

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore