
LUAR BIASA: Abah Jajang mempertahankan rumah dan perkarangannya yang berhias pemandangan elok Curug Citambur di Kampung Rawa Dewa, Desa Karangjaya, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur.
Taksir nominal rumah sederhana Abah Jajang sungguh fantastis. Itu karena hamparan keasrian yang tersaji di hadapannya. Lembah yang hijau dan eksotisme air terjun bernama Curug Citambur. Privilese itu membuat pria 73 tahun tersebut menolak tawaran Rp 2,5 miliar.
"MENJAGA tanah leluhur.” Prinsip itulah yang Abah Jajang tegaskan berkali-kali kepada Jawa Pos Radar Cianjur saat bertandang ke rumahnya pekan lalu. Ayah dua anak itu mengatakan bahwa rumah dan pekarangan milik keluarganya itu sudah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, dia tidak tergiur pada tawaran yang berulang menghampirinya meski nilainya jauh di atas rata-rata.
Sedikitnya lima kali Abah Jajang menolak calon pembeli. "Tidak dijual. Sama sekali,” ungkapnya. Sejak lahir, lelaki berperawakan langsing itu memang tinggal di sana. Lembah hijau dan Curug Citambur menjadi pemandangan indah yang melipatgandakan keasrian rumahnya. Rumah berukuran 9 x 6 meter persegi yang kini dia tinggali bersama keluarganya pun merupakan warisan dari orang tuanya.
Sebagai orang yang dipercaya untuk menjaga rumah dan pekarangan tersebut, Abah Jajang memang tidak pernah punya niat untuk menjualnya. Apalagi, dia dan keluarganya juga tidak punya tempat tinggal lain. Menukar rumah dan pekarangan dengan rupiah, bagi Abah Jajang, mencederai kepercayaan leluhur. Maka, tawaran fantastis WNA asal Australia beberapa waktu lalu pun dia tampik dengan tegas.
Lebih dari itu, Abah Jajang juga berpesan kepada keturunannya untuk tetap mempertahankan wasiat keluarga. Yakni, tetap tinggal di rumah tersebut dan menjaganya sebagai warisan leluhur. Kendati rumah kayu dengan desain rumah panggung itu sangat sederhana, Abah Jajang dan keluarga bahagia tinggal di sana. Empat kamar tidur dan satu dapur dengan tungku api cukup membuat mereka nyaman.
’’(Rumah) Ini amanat,” kata Abah Jajang. Karena itu, apa pun tantangannya, rumah dan pekarangan harus tetap mereka pertahankan. Juga, mereka jaga kelestariannya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Abah Jajang bercocok tanam. Dia menggarap sawah yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Terbiasa dengan konsep bertani, Abah Jajang tidak tertarik untuk mendapatkan penghasilan berlebih dalam waktu singkat. Apalagi, jika yang harus dia relakan adalah tanah dan pekarangan yang sudah dia jaga dengan baik seumur hidupnya.
BERSAHAJA: Abah Jajang bersantai di dalam rumah bersama menantunya, Ai, dan istrinya, Maryam (kiri).
Kisah Abah Jajang dan ketegasannya mempertahankan rumah sederhana milik keluarganya itu menjadi viral di media sosial. Apalagi, kabar yang santer berembus itu juga disertai dengan foto dan video pemandangan lembah serta air terjun yang aduhai. Para pemburu konten langsung mendatangi rumah Abah Jajang. Bahkan, ada yang menginap dan mendirikan tenda di pekarangannya.
Pro dan kontra aksi para pemburu konten itu membuat kisah Abah Jajang dan rumahnya kian terekspos. Ketika sebagian masyarakat mengkhawatirkan kenyamanan dan privasi Abah Jajang karena keriuhan yang tiba-tiba tercipta di rumahnya, suami Maryam itu santai. Dia justru mengaku senang dengan fenomena baru tersebut. Sebab, rumah yang terletak di tepian lembah itu menjadi ramai.
’’Abah mah tidak merasa risi atau merasa keberatan dengan orang yang datang ke rumah. Jadi hangat. Silakan saja abah mah kalau mau ke rumah. Asal jangan ditawar aja,” papar Abah Jajang, lalu tertawa.
Dia dan keluarganya menganggap para kreator konten atau masyarakat awam yang datang ke rumahnya demi memotret langsung keindahan Curug Citambur sebagai tamu. Maka, layaknya kedatangan tamu, Abah Jajang dan keluarga selalu berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Demikian pula saat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bertamu. Bagi Abah Jajang dan Maryam, siapa pun yang datang, apa pun pangkatnya, adalah tamu yang harus dia sambut.
’’Ambu mah senang. Banyak yang datang, jadi menambah keluarga. Enggak merasa direpotkan sama sekali. Mungkin hikmah dari ramainya rumah ini di mana-mana, jadi punya banyak saudara. Biar menikmati ciptaan Allah SWT,” tutur perempuan 60 tahun itu. (kim/c17/hep)
WASIAT: Rumah warisan turun-temurun keluarga Abah Jajang yang menghadap Curug Citambur.
---

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
