Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Januari 2020 | 17.55 WIB

Durian Podang Kediri, Jadi Maskot karena Hanya Satu Pohon

LANGKA: Tak sampai 200 durian podang yang dihasilkan di setiap musim panen. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos) - Image

LANGKA: Tak sampai 200 durian podang yang dihasilkan di setiap musim panen. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

Warna durian yang satu ini begitu khas. Kuning kemerah-merahan. Rasanya juga istimewa. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Setiap kali panen tak sampai 200 buah.

---

DUSUN Slumbung di Desa Mlancu, Kecamatan Kandangan, adalah salah satu ’’gudang’’ durian asal Kediri. Aneka ragam varietas lokal tumbuh di sana. Kualitasnya pun tak usah diragukan.

Namun, dari sekian jenis durian yang ada di dusun di kawasan lereng Gunung Kelud itu, ada satu yang kerap disebut-sebut sebagai salah satu maskotnya. Yakni, durian podang.

Nama durian ini persis dengan mangga khas Kediri, mangga podang. Sebab, keduanya memiliki kesamaan dari segi warna. Kuning kemerahan yang mencolok. Warna daging buahnya juga tak jauh berbeda, kuning cerah.

Selain warna kulit, ciri yang membuat durian ini tidak sulit dikenali adalah bentuknya yang lonjong. Durian ini juga ringan. Rata-rata 1–1,5 kilogram per buah.

Soal rasa, jangan ditanya. Nikmatnya luar biasa jika dibandingkan dengan jenis lain di Slumbung. Inilah maskot utamanya. Manis dan pahitnya pas. Bijinya yang kempis membuat daging buahnya cukup tebal. Teksturnya lembut dan lengket. Para penggemar terpuaskan saat menikmati sebutir durian ini.

Faktor lain yang membikin durian podang jadi ’’komoditas panas’’ adalah jumlahnya yang terbatas. Hanya ada satu pohon penghasil jenis ini. Panen pertama berlangsung pada pertengahan Januari. Itu pun tak banyak, cuma 100 buah. Setelah itu, setiap hari hanya ada 10–15 buah yang masak.

’’Biasanya sudah banyak yang pesan dulu,’’ ujar pemilik sekaligus petani durian Wahyu Ningsih.

Panen berikutnya biasanya baru pertengahan Februari. Sama, jumlahnya pun tidak melimpah. ’’Ada sekitar 70 buah. Sudah kami ikat. Tinggal nunggu jatuh,’’ ungkap Eko Hermanto, adik Wahyu Ningsih.

Menurut penuturan keduanya, pohon tersebut ditanam sejak biji pada zaman kakek-nenek mereka. Karena itu, ukurannya sangat besar. Paling tinggi di antara pohon lain di Dusun Slumbung.

https://www.youtube.com/watch?v=RMwUYsVewS4

Selain soal kualitas dan kelangkaannya, ada cerita lain dari durian ini. Di dusun itu terdapat satu aturan tak tertulis. Yakni, buah yang jatuh ke tanah menjadi milik umum. Jadi, siapa pun yang menemukan boleh mengambilnya.

’’Misalnya, kalau ada orang mencari rumput, terus nemu durian jatuh, meski itu ada di tempat kita, tidak masalah diambil,’’ paparnya.

Dusun yang berbatasan dengan Kabupaten Malang itu memang dikenal sebagai penghasil durian di Kediri. Hampir seluruh warganya memiliki pohon durian. Ada yang menjualnya sendiri seperti Ningsih dan Eko. Ada pula yang menjualnya per pohon kepada para tengkulak.

Meski tanpa pupuk tambahan, kualitas pohon-pohon durian di sana stabil. Sebab, tanah di kawasan lereng Kelud memang terkenal subur. Kandungan airnya juga terjaga meski musim kemarau.

Karena itu, saat pagi tiba, hilir mudik para petani keluar dari hutan dengan membawa rengkekan (keranjang) jadi pemandangan umum. Buah durian di sana memang asli jatuhan, bukan suluhan. ’’Ini yang menjadi jaminan untuk pelanggan. Buahnya pasti matang karena sudah jatuhan dari pohon,’’ tegas Eko.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore