Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Desember 2019 | 19.31 WIB

Wisata Budaya Desa Japan, Generasi Muda Membangun Desa

BERLATIH MENARI; Para remaja giat berlatih musik karawitan dan menari jaranan serta reog di Sanggar Sigologolo Art, Desa Japan, Kabupaten Ponorogo. (Istimewa) - Image

BERLATIH MENARI; Para remaja giat berlatih musik karawitan dan menari jaranan serta reog di Sanggar Sigologolo Art, Desa Japan, Kabupaten Ponorogo. (Istimewa)

JawaPos.com - Mengunjungi Desa Japan tak sekadar belajar berkesenian tapi juga menumbuhkan keinginan untuk terus melestarikan. Di sana, geliat budaya lokal begitu terasa. Kaum muda rajin berlatih musik karawitan dan menari jaranan serta reog di sanggar. Situs-situs sejarah yang masih terjaga makin menegaskan Desa Japan sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Ponorogo.

Salah satu kesenian lokal yang paling menonjol di Desa Japan adalah reog Ponorogo. Di desa tersebut, seniman-seniman muda dilatih untuk menjadi pemain reog dan jaranan. Kreativitas tinggi juga membuat warga Desa Japan mampu mengolah plastik dan kertas bekas untuk menjadi reog. Hasil karya tersebut terpajang di sanggar.

Geliat kesenian di Desa Budaya Japan itu menunjukkan peningkatan. Hal itu tak lepas dari dukungan 76 Heppiii Community melalui program Karang Taruna Membangun Desa. ’’Sejak dua tahun lalu kami menggandeng kelompok masyarakat (pokmas) Selomulyo dan jajaran karang taruna untuk giat mendorong kaum muda untuk berlatih tari jaranan. Bahkan, pelaku seni itu difasilitasi sampai bisa melakukan pementasan,” ujar Koordinator 76 Heppiii Community Ponorogo Andri Kristiawan.

Pendiri Sanggar Sigologolo Art Agung Subroto mengakui dampak positif dari sumbangsih yang diberikan oleh 76 Heppiii Community. Sanggarnya kini banyak didatangi warga. Bakat kaum muda di desa tersebut bisa lebih dikenal oleh wisatawan yang datang. ”Intinya, sejak adanya 76 Heppiii Community, seni di Desa Japan makin terangkat. Saya sudah tak lagi khawatir tentang regenerasi karena muda-mudi makin banyak yang berlatih seni,” ungkapnya.

Desa Japan juga kaya dengan situs-situs sejarah. Di beberapa titik, makam pendahulu, petilasan, serta lokasi sejarah masih terjaga dengan baik. Salah satunya adalah Gua Sigologolo yang merupakan tempat peristirahatan serta pertapaan Joyodrono, abdi dalem raja Majapahit Brawijaya V.

”Bentuknya bukan gua, tapi pohon asam besar. Pohon tersebut dipercaya merupakan gerbang astral yang menghubungkan Ponorogo ke Gua Selomangleng di Kediri,” tutur Ketua Pokmas Selomulyo Juli Pratikno.

Potensi lain di Desa Japan terus tergali. Salah satunya adalah agrowisata dan kerajinan ramah lingkungan. Keduanya akan dikembangkan secara berkelanjutan. Desa Japan terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung. Di sana, wisatawan bisa mengunjungi situs sejarah, belajar kesenian, menikmati agrowisata, dan berbaur dengan warga setempat. (ree/xav)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore