
Danau Singkarak berubah drastis setelah banjir bandang, tertutup kayu gelondongan, dampak besar bagi pariwisata. (Instagram @nabilllntn)
JawaPos.com - Danau Singkarak, yang dulu dikenal sebagai salah satu lokasi wisata paling indah di Sumatera Barat, kini berubah wajah setelah banjir bandang menyapu wilayah Solok. Permukaan danau terbesar ketiga di Sumatera itu dipenuhi gelondongan kayu, menutupi hamparan air yang biasanya berwarna biru tenang.
Kondisi ini menjadi sorotan karena Singkarak selama ini merupakan ikon alam penting sekaligus sumber kehidupan bagi banyak warga karena telah menjadi tempat wisata.
Danau Singkarak sendiri terletak di dua kabupaten, yakni Solok dan Tanah Datar dengan luas mencapai 107,8 km². Danau tektonik ini merupakan bagian dari DAS Indragiri dan menjadi hulu Sungai Batang Ombilin.
Sebagian airnya dialirkan melalui terowongan menembus Bukit Barisan menuju Batang Anai untuk menggerakkan PLTA Singkarak di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Perairan Singkarak terbentuk akibat aktivitas Sesar Sumatera yang menciptakan cekungan besar di kawasan Singkarak–Solok. Cekungan ini kemudian tertahan material vulkanik sehingga membentuk danau raksasa.
Berbeda dengan Danau Maninjau yang tercipta akibat letusan gunung api, Singkarak lahir terutama dari proses tektonik.
Selain menjadi destinasi wisata, Singkarak dikenal sebagai habitat ikan bilih (Mystacoleucus padangensis), spesies endemik yang hanya hidup di danau ini. Penelitian mencatat ada 19 spesies ikan air tawar yang mendiami Singkarak, meski tingkat keanekaragamannya tidak terlalu tinggi.
Tiga di antaranya mendominasi populasi, yakni ikan bilih/biko, asang/nilem, dan rinuak. Spesies lainnya meliputi turiak, lelan, sasau, gariang, kapiek, balinka, baung, kalang, buntal, gurami, puyu, sepat, tilan, gabus, serta mujair.
Namun, kondisi ekologis Danau Singkarak sebenarnya tergolong mesogotrofik, artinya daya dukung nutrisinya terbatas. Populasi plankton dan bentos yang menjadi sumber makanan utama ikan tergolong rendah, sehingga ekosistem di dalamnya relatif rapuh. Karena itu, terganggunya sumber air oleh material kayu dalam jumlah besar dapat berdampak signifikan pada keseimbangan ekologis.
Kini, dengan permukaan danau berubah menjadi lautan kayu gelondongan akibat galodo, tantangan baru muncul. Selain mengubah tampilan Singkarak secara drastis, kondisi ini juga berpotensi mempengaruhi ekosistem yang sudah sensitif. Upaya pembersihan hingga pemulihan lingkungan menjadi pekerjaan besar yang menunggu penanganan.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
