Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Agustus 2017 | 01.40 WIB

Kalau Mabuk, Pakai Bandul Sapi Seminggu

MINUMAN NASIONAL: Para pengunjung museum vodka di Saint Petersburg, Rusia, mengamati etalase vodka dan poster-poster propaganda di ruangan pertama. - Image

MINUMAN NASIONAL: Para pengunjung museum vodka di Saint Petersburg, Rusia, mengamati etalase vodka dan poster-poster propaganda di ruangan pertama.

JawaPos.com - Rusia adalah negara pengonsumsi alkohol nomor empat terbesar di dunia. Dalam setahun, orang Rusia yang berumur 15 tahun ke atas rata-rata menenggak 15,76 liter minuman. Jenis yang paling jamak ditemui tentu vodka (konon, vodka di sana paling nikmat). Di sela liputan Piala Konfederasi Juli lalu, Diar Candra menyempatkan diri berkunjung ke museum vodka.
---
KALAU sudah di Rusia, rasanya kurang lengkap kalau tidak mencicipi vodka lokal. Apalagi, vodka merupakan national drink negeri yang dipimpin Vladimir Putin tersebut. Setelah sekitar 16 hari dijejali padatnya agenda liputan Piala Konfederasi 2017, saatnya untuk bersantai sejenak (horee).


Dari informasi yang saya kumpulkan, hanya ada dua museum vodka di Rusia. Yakni, di Moskow dan St Petersburg. Untuk Moskow, museum vodka berada di area Izmaylovskaya. Di St Petersburg, museum vodka bisa ditemui di Konnogvardeisky. Karena kebetulan berada di St Petersburg, saya tentu menuju museum yang terdekat.


Untuk menuju ke Konnogvardeisky, kita bisa naik kereta bawah tanah atau metro. Cari yang menuju ke stasiun terdekat, yakni Admiralteyskaya. Dari stasiun, kita masih harus berjalan sekitar 1,2 kilometer lagi. Katedral St Isaac terdapat tidak jauh dari museum vodka.


Nah, keberadaan museum vodka tersebut satu gedung dengan Stroganoff Restaurant. Tampaknya, itu menjadi strategi bisnis tersendiri. Sebelum masuk ke museum, pengunjung dipersilakan menunggu di restoran tersebut. Tentu awkward kan kalau duduk manis di restoran tanpa memesan apa pun. Biasanya, tanpa diminta, pelayan otomatis memberikan paket penawaran. Yakni, makan, mencicipi vodka, dan masuk museum.


Tiket masuk museum termurah adalah RUB 400 (sekitar Rp 87 ribu) per orang. Jika ingin mencicipi tiga seloki vodka plus kudapannya, pengunjung dikenai biaya RUB 600 (atau setara Rp 131 ribu) per orang. Ditambah makan di restoran, biaya termurah untuk menikmati seluruh experience di museum rata-rata mencapai RUB 2.000 atau sekitar Rp 438 ribu.


Tur museum vodka tersebut dimulai pukul 15.00 dan berakhir pukul 21.00 waktu setempat. Satu rombongan biasanya terdiri atas enam sampai delapan pengunjung.


Ruangan pertama museum vodka itu tidak seberapa luas. Yakni, berukuran 6 x 10 meter. Dalam ruangan tersebut dipamerkan alat-alat pembuatan vodka pada awal abad ke-16. Tampaknya, vodka di Rusia dikenalkan bangsa Italia. Awalnya, mereka memakai anggur sebagai bahan dasar fermentasi. Karena di Rusia sulit menemukan anggur, gantinya adalah biji-bijian.


’’Dari banyak ahli yang meneliti asal kata vodka, vodka berasal voda atau air,’’ kata Yana Meisner, pemandu museum. Setelah sejarah singkat dan alat pembuatan vodka pada abad ke-16, pengunjung dipertontonkan berbagai hal terkait dengan perkembangan industri vodka.


Dari era Tsar Nicholas II (1868–1918), ada bandul besi yang bentuknya mirip klontongan sapi. Bandul tersebut wajib dikalungkan ke leher prajurit yang ketika mabuk membuat kekacauan alias resek. ’’Sabda Tsar Nicholas II kepada para prajuritnya, cukup adalah cukup. Jadi, minum vodka tak boleh mabuk,’’ ucap Yana. Prajurit yang kena hukum karena mabuknya membuat kekacauan harus memakai bandul besi itu selama seminggu (ini lucu, cocok buat mendisiplinkan pasukan).


Kemudian, ada juga kisah vodka pada Perang Dunia II. Jadi, prajurit yang kembali dari medan perang wajib memasukkan medali kehormatannya ke vodka, lalu meminum minuman tersebut. Ketika vodka dimasukkan ke mulut dan medali bisa tergigit, prajurit itu dipercaya akan beruntung pada pertempuran berikutnya.


Masuk ke ruangan kedua yang berukuran 6 x 8 meter, selain ada foto-foto pembesar Rusia yang sedang minum vodka, ada lima meja kecil. Di sinilah para pengunjung dipersilakan mencicipi tiga seloki vodka paling terkemuka. Yakni, Russian Standard, Arkhangelsk, dan bulbash.


Ketiganya memiliki rasa dan sensasi yang berbeda-beda. Bagi saya, yang paling acceptable adalah Russian Standard. Paling soft dan enak. Bulbash paling nonjok. Bikin kaget ketika minum. Arkhangelsk agak lebih keras dari Russian Standard, tapi tidak se-ngagetin bulbash. Namun, sensasi menikmati vodka di negeri yang memang identik dengan vodka sungguh tidak tertandingi.


Oh iya, jangan lupa tiga jenis kudapan yang sudah disiapkan. Yakni, ikan asin, acar timun, plus satu jenis lagi yang saya tak yakin terbuat dari apa. Masing-masing cocok dengan setiap jenis vodka yang berbeda. Di lidah saya sih, Russian Standard paling jodoh jika disantap dengan acar mentimun. Nggak tahu kalau menurut pengunjung lain, hehehe...


Lidah saya nampaknya cocok dengan pendapat sastrawan besar Rusia Anton Checkov. Katanya, orang berusaha keras mencari teman yang cocok untuk minum vodka. Tapi, mereka tak akan pernah menemukan kudapan yang lebih bagus daripada acar timun. Kutipan Checkov itu tertulis di menu restoran.


’’Katakan Nazdarovya kepada teman minum kita. Artinya untuk kesehatan,’’ tambah Yana. Ja. Nazdarovya! (*)

Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore