Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 September 2023 | 18.58 WIB

Mengenal Sumbu Filosofi Jogjakarta sebagai Warisan Dunia UNESCO

Tugu Pal Putih Jogja. (Dok. Zainiya Abidatun N/Jawa Pos) - Image

Tugu Pal Putih Jogja. (Dok. Zainiya Abidatun N/Jawa Pos)

JawaPos.Com – Sumbu Filosofi Yogyakarta yang terdaftar Warisan Dunia UNESCO bertajuk lengkap the Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks, secara resmi diakui sebagai warisan dunia karena dinilai memiliki arti penting secara universal.

Sumbu Filosofi Yogyakarta secara resmi diterima sepenuhnya sebagai Warisan Budaya Dunia sesuai dokumen penetapan WHC 2345.COM 8B. 39.

Kawasan sumbu filosofi merujuk pada garis imajiner yang menghubungkan Panggung Krapyak dan Tugu Yogyakarta, yang juga mencakup Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

Tata ruang ini merupakan konsep yang dibuat raja pertama Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I, pada abad ke 18, yang berlandaskan konsepsi Jawa.

Susunan Sumbu Filosofi Yogyakarta (Portal Resmi Daerah Istimewa Yogyakarta)

Sultan Hamengku Buwana I mendirikan Tugu Golong-Gilig (Pal Putih) di sisi utara keraton, dan Panggung Krapyak di sisi selatannya.

Dari ketiga titik tersebut, jika ditarik suatu garis lurus maka akan membentuk sumbu imajiner yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Tugu Golong-Gilig/Pal Putih dan Panggung Krapyak merupakan simbol Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan.

Tugu Golong-Gilig pada bagian atasnya berbentuk bulatan (golong) dan pada bagian bawahnya berbentuk silindris (gilig) serta berwarna putih sehingga disebut juga Pal Putih.

Tugu Golong Gilig melambangkan keberadaan sultan dalam melaksanakan proses kehidupannya.

Hal tersebut ditunjukkan dengan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disertai satu tekad menuju kesejahteraan rakyat (golong-gilig) dan didasari hati yang suci (warna putih).

Karena itu, Tugu Golong-Gilig ini menjadi titik pandang utama (point of view) sultan pada saat melaksanakan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara.

Hubungan filosofi antara Tugu, Kraton dan Panggung Krapyak ini yang mulanya bersifat Hinduistis oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I diubah menjadi konsep filosofi Islam Jawa "Sangkan Paraning Dumadi".

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore