
Photo
JawaPos.com - Beberapa grup aplikasi percakapan WhatsApp mendadak gempar dengan pesan berantai tentang patahan lempeng di Surabaya. Pesan itu menyebutkan bahwa wali kota Surabaya memohon doa agar Kota Pahlawan tidak hancur karena patahan lempeng bumi yang membesar.
”Ini dpt info dr group LPMK AAC. Bu Risma minta utk didoakan agar kota Surabaya tdk hancur krn adanya patahan lempeng yg melewati Sukolilo sampe Cerme Gresik Dan patahan yg garis kedua dari Waru ke Krian, Mojokerto, Jombang, Nganjuk sampe Cepu.” Begitu penggalan narasinya.
Pesan berantai tersebut juga menuliskan bahwa tim ahli gempa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sudah melihat tanda-tanda pada jalan-jalan yang akan mengalami patahan. Menurut pesan itu juga, tim ITS melihat patahan tersebut semakin besar.
Saat ditelusuri, informasi serupa juga tersebar di berbagai grup Facebook kemarin (20/2). Bahkan dilengkapi potongan video Risma yang sedang memberikan sambutan (bit.ly/SemakinMembesar). Dalam video itu, Risma mengutip prediksi dari seorang peramal bahwa ada beberapa bencana pada tahun ini. Yaitu, gunung meletus, tsunami, gempa bumi 8–8,5 SR, dan burung besi jatuh. Pemkot pun tertantang membuat sistem tentang penanggulangan bencana.
Kabaghumas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajata menyatakan, penyataan Wali Kota Tri Rismaharini dalam video tersebut tidak terkait dengan penelitian ITS. ”Kalau soal itu (penelitian, Red), silakan Sampean klarifikasi ke pihak ITS,” katanya.
Febri menjelaskan, pernyataan dalam video tersebut terkait antisipasi menghadapi prediksi bencana terkait kondisi cuaca yang dinformasikan BNPB dan BMKG. Salah satu antisipasi itu berupa persiapan gudang logistik. Sama sekali tidak berkaitan dengan kabar bahwa Surabaya akan hancur karena patahan lempeng bumi. ”Itu video awal tahun 2020,” tuturnya.
Sementara itu, peneliti Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS Surabaya Amien Widodo mengatakan, patahan yang disebutkan memang ada, sesuai hasil penelitian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) Kementerian PUPR. Namun, untuk tanda-tanda bahwa patahan itu membesar, pihaknya sedang menelusuri dengan penelitian. ”Tanda-tanda sedang dicari. Butuh paling tidak 10 tahun menuntaskan,” katanya kemarin (20/2).
Amien juga menyangkal bahwa ITS telah melihat patahan yang semakin besar. Sebab, belum ada pengukuran yang dilakukan secara berkelanjutan. Melihat patahan juga harus menggunakan alat khusus.
---
FAKTA
Peneliti Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS tidak pernah membuat pernyataan bahwa patahan lempeng bumi yang melewati Surabaya semakin besar.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
