Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Februari 2020 | 23.33 WIB

Hoaks Rumor Bencana Mencatut Risma dan ITS

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Beberapa grup aplikasi percakapan WhatsApp mendadak gempar dengan pesan berantai tentang patahan lempeng di Surabaya. Pesan itu menyebutkan bahwa wali kota Surabaya memohon doa agar Kota Pahlawan tidak hancur karena patahan lempeng bumi yang membesar.

”Ini dpt info dr group LPMK AAC. Bu Risma minta utk didoakan agar kota Surabaya tdk hancur krn adanya patahan lempeng yg melewati Sukolilo sampe Cerme Gresik Dan patahan yg garis kedua dari Waru ke Krian, Mojokerto, Jombang, Nganjuk sampe Cepu.” Begitu penggalan narasinya.

Pesan berantai tersebut juga menuliskan bahwa tim ahli gempa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sudah melihat tanda-tanda pada jalan-jalan yang akan mengalami patahan. Menurut pesan itu juga, tim ITS melihat patahan tersebut semakin besar.

Saat ditelusuri, informasi serupa juga tersebar di berbagai grup Facebook kemarin (20/2). Bahkan dilengkapi potongan video Risma yang sedang memberikan sambutan (bit.ly/SemakinMembesar). Dalam video itu, Risma mengutip prediksi dari seorang peramal bahwa ada beberapa bencana pada tahun ini. Yaitu, gunung meletus, tsunami, gempa bumi 8–8,5 SR, dan burung besi jatuh. Pemkot pun tertantang membuat sistem tentang penanggulangan bencana.

Kabaghumas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajata menyatakan, penyataan Wali Kota Tri Rismaharini dalam video tersebut tidak terkait dengan penelitian ITS. ”Kalau soal itu (penelitian, Red), silakan Sampean klarifikasi ke pihak ITS,” katanya.

Febri menjelaskan, pernyataan dalam video tersebut terkait antisipasi menghadapi prediksi bencana terkait kondisi cuaca yang dinformasikan BNPB dan BMKG. Salah satu antisipasi itu berupa persiapan gudang logistik. Sama sekali tidak berkaitan dengan kabar bahwa Surabaya akan hancur karena patahan lempeng bumi. ”Itu video awal tahun 2020,” tuturnya.

Sementara itu, peneliti Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS Surabaya Amien Widodo mengatakan, patahan yang disebutkan memang ada, sesuai hasil penelitian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) Kementerian PUPR. Namun, untuk tanda-tanda bahwa patahan itu membesar, pihaknya sedang menelusuri dengan penelitian. ”Tanda-tanda sedang dicari. Butuh paling tidak 10 tahun menuntaskan,” katanya kemarin (20/2).

Amien juga menyangkal bahwa ITS telah melihat patahan yang semakin besar. Sebab, belum ada pengukuran yang dilakukan secara berkelanjutan. Melihat patahan juga harus menggunakan alat khusus.

---

FAKTA

Peneliti Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS tidak pernah membuat pernyataan bahwa patahan lempeng bumi yang melewati Surabaya semakin besar.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore