Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 15.25 WIB

Elon Musk Bela Pusat Data AI dan Serang Regulasi Uni Eropa di Forum G20

Elon Musk berbicara secara virtual dalam pertemuan G20 yang membahas teknologi dan inovasi di Chapel Hill, Amerika Serikat (France24) - Image

Elon Musk berbicara secara virtual dalam pertemuan G20 yang membahas teknologi dan inovasi di Chapel Hill, Amerika Serikat (France24)


JawaPos.com
- Elon Musk membawa dua pesan besar ke forum G20 yang mempertemukan pemerintah dan para raksasa teknologi dunia: kecerdasan buatan membutuhkan infrastruktur energi yang jauh lebih besar, sementara regulasi yang berlebihan berpotensi memperlambat inovasi. Sikap itu menempatkan Musk di tengah perdebatan global mengenai seberapa jauh negara harus mengendalikan perkembangan AI.

Pendiri Tesla dan SpaceX itu berbicara secara virtual dalam pertemuan G20 yang berfokus pada teknologi dan inovasi di Chapel Hill, North Carolina. Forum tersebut berlangsung ketika pembangunan pusat data AI di Amerika Serikat (AS) menghadapi penolakan yang semakin besar, terutama karena kebutuhan listrik, dampak lingkungan, dan besarnya pembangunan infrastruktur menjelang pemilihan paruh waktu tahun ini.

Dilansir dari France24, Rabu (2/9/2026), Musk membela pembangunan pusat data sebagai kebutuhan mendesak bagi revolusi AI. Menurutnya, fasilitas tersebut diperlukan untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik dalam memenuhi kebutuhan komputasi AI. Dia menegaskan bahwa pengembang pusat data harus membayar pajak secara adil, tetapi dunia teknologi tetap membutuhkan kapasitas komputasi yang disediakan infrastruktur tersebut.

Namun, perdebatan di Chapel Hill tidak berhenti pada soal energi. Di hadapan para menteri dari Prancis, Italia, dan Jerman serta Kepala Teknologi Uni Eropa Henna Virkkunen, Musk secara terbuka mengkritik pendekatan regulasi Eropa.

"Anda harus memiliki lingkungan yang relatif bebas dari regulasi, yang berarti hal-hal baru pada dasarnya harus dianggap legal, bukan ilegal," kata Musk.

Dia kemudian menilai kebijakan Uni Eropa menciptakan hambatan bagi perkembangan teknologi baru.

"Di Uni Eropa, misalnya, kami melihat tingkat regulasinya sangat tinggi, dan berbagai hal pada umumnya dianggap ilegal secara default. Hal itu menghambat kemajuan teknologi baru," ujarnya.

Musk menambahkan, "Hal itu pada akhirnya memang tidak menghentikannya, tetapi memperlambatnya secara cukup signifikan." Pandangan tersebut ditolak oleh para pejabat Uni Eropa yang mempertahankan pendekatan regulasi mereka. 

Sikap Musk sejalan dengan pendekatan pemerintahan Presiden Donald Trump yang mendorong pengawasan AI secara lebih longgar dan memberi ruang lebih besar bagi industri untuk mengatur diri sendiri.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore