Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06.16 WIB

Elon Musk Sebut Tiongkok Pesaing Terkuat AS dalam Perebutan Dominasi AI

Elon Musk menilai Tiongkok sebagai pesaing terkuat Amerika Serikat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) (The Street) - Image

Elon Musk menilai Tiongkok sebagai pesaing terkuat Amerika Serikat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) (The Street)

JawaPos.com - Elon Musk melihat Tiongkok sebagai penantang terbesar Amerika Serikat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Bagi CEO Tesla dan SpaceX itu, keunggulan Tiongkok bukan semata soal model AI, melainkan kemampuan menggabungkan energi melimpah, kapasitas komputasi, manufaktur berskala besar, dan kemajuan robotika untuk mempercepat pengembangan teknologi tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Musk melalui X ketika menanggapi kembali komentarnya pada 2011 mengenai tantangan jangka panjang Tiongkok terhadap AS dalam teknologi roket.

"Tiongkok juga, sejauh ini, merupakan pesaing terkuat dalam AI," tulis Musk. Pernyataan tersebut kemudian kembali menjadi perhatian pengamat teknologi dan kebijakan.

Dilansir dari The Street, Jumat (21/8/2026), pandangan Musk merupakan kelanjutan dari peringatannya mengenai kemampuan Tiongkok mengejar AS. Dalam wawancara sebelumnya, dia mengatakan terdapat "peluang yang cukup besar perusahaan AI Tiongkok akan menjadi pemimpin apabila memperoleh akses komputasi yang lebih besar." Musk turut menilai laboratorium AI Tiongkok telah menghasilkan kinerja kuat dengan sumber daya komputasi yang relatif terbatas.

Menurut Musk, persoalan utama pengembangan AI tidak berhenti pada kecanggihan cip. Listrik dan kemampuan komputasi menjadi kendala yang semakin menentukan karena pusat data AI membutuhkan energi dalam skala sangat besar.

Dalam World Economic Forum 2026, Musk menyebut, "Faktor pembatas untuk penerapan AI pada dasarnya adalah daya listrik. Sederhananya, energi."

Karena itu, dia melihat keunggulan Tiongkok dalam kapasitas pembangkitan listrik sebagai faktor strategis. Musk sebelumnya memperkirakan Tiongkok dapat memiliki kapasitas listrik jauh lebih besar daripada AS dan menilai kemampuan tersebut akan membantu negara itu mengoperasikan lebih banyak pusat data. Dia juga menyoroti kemajuan Tiongkok dalam robotika dan kemampuan perusahaan-perusahaannya meningkatkan produksi dalam skala besar.

Namun, persaingan tersebut tidak berarti Tiongkok telah mengambil alih kepemimpinan AI. Penilaian independen menunjukkan kesenjangan performa antara model AI terdepan AS dan Tiongkok menyempit dan kedua negara telah bergantian menduduki posisi teratas dalam sejumlah tolok ukur selama setahun terakhir. AS masih unggul dalam investasi swasta dan jumlah model penting yang dirilis, sementara Tiongkok memiliki keunggulan dalam publikasi riset, sitasi, dan paten.

Di tengah perkembangan itu, kebutuhan energi dan komputasi menjadi persoalan yang semakin penting. Musk menilai kapasitas listrik sebagai salah satu batas utama pengembangan AI, sementara pembangunan pusat data membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar. Kondisi ini mendorong perusahaan yang telah memiliki akses ke infrastruktur listrik untuk mengalihkan kapasitasnya ke kebutuhan AI, termasuk perusahaan penambangan Bitcoin.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore