
Ilustrasi 3D kompleks industri futuristik SpaceX di Bulan / Foto: (Scientific American
JawaPos.com — Elon Musk kembali memperluas ambisi SpaceX jauh melampaui bisnis peluncuran roket. Dalam pembicaraan dengan investor pada Selasa (4/8), Musk mengungkap rencana membangun pabrik satelit di Bulan yang sebagian besar dioperasikan robot. Gagasan itu menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan ruang angkasa sebagai basis produksi sekaligus memperbesar kapasitas komputasi kecerdasan buatan (AI).
Musk mengatakan fasilitas tersebut dapat dipadukan dengan pembangkit energi surya dan sistem energi berbasis radiasi di permukaan Bulan. Dari kombinasi tersebut, dia melihat peluang untuk memperluas kapasitas kecerdasan yang dikirim ke luar angkasa hingga “1.000 kali ekonomi Bumi, atau mungkin bahkan satu juta kali”, sekaligus menegaskan bahwa visi tersebut akan terwujud “lebih cepat dari yang Anda kira”.
Dilansir dari Scientific American, Kamis (6/8/2026), Musk mengakui bahwa pabrik yang sebagian besar diisi pekerja robotik “terdengar seperti fiksi ilmiah super saat ini, tetapi itu akan terjadi”. Pernyataan tersebut disampaikan ketika SpaceX menghadapi tekanan keuangan, dengan kerugian USD 542 juta atau sekitar Rp9,68 triliun (kurs Rp17.880 per dolar AS) dari sektor peluncuran antariksa pada kuartal pertamanya sebagai perusahaan terbuka.
Namun, gagasan manufaktur di Bulan tidak sepenuhnya tanpa dasar ekonomi. Patrick Suermann, profesor ilmu konstruksi di Texas A&M University, menilai gravitasi Bulan yang lebih rendah dapat mengurangi bahan bakar yang dibutuhkan untuk meluncurkan satelit dibandingkan dari Bumi. “Bagian paling mahal dari peluncuran adalah bahan bakar untuk membawa sesuatu keluar dari atmosfer kita,” ujarnya. Karena itu, produksi langsung di Bulan berpotensi memangkas biaya untuk mengirim satelit menuju orbit cislunar, orbit rendah Bumi, bahkan Mars.
Meski demikian, hambatan awalnya sangat besar. Infrastruktur pabrik Bulan akan membutuhkan investasi ekstrem, sementara SpaceX juga mencatat kerugian USD 1,257 miliar atau sekitar Rp22,48 triliun dari operasi AI pada kuartal tersebut. Secara keseluruhan, kerugian operasional SpaceX mencapai USD 143 juta. Dalam jangka pendek, tekanan itu tertahan oleh bisnis konektivitas yang menguntungkan, terutama konstelasi satelit Starlink.
Di sisi lain, Musk melihat investasi AI sebagai bagian dari strategi yang saling menopang. Setelah membahas manufaktur di Bulan, dia beralih ke rencana pengembangan pusat data AI di Bumi. Musk mengatakan keahlian SpaceX dalam membangun roket dapat diterapkan pada pusat data tersebut.
“Jika Anda menerapkan sedikit saja kemampuan teknik yang digunakan untuk membuat roket raksasa mencapai orbit secara rutin dan andal pada pusat data di darat, ini, terus terang, seperti New York Yankees bermain melawan tim Little League,” katanya. Analogi itu menunjukkan keyakinan Musk bahwa pengalaman SpaceX membangun roket dapat memberi perusahaan keunggulan besar dalam mengembangkan pusat data AI.
Fondasi lain dari rencana tersebut adalah Starship. Musk menonjolkan dua penerbangan uji terbaru, termasuk penerbangan yang berhasil menempatkan 20 satelit Starlink sebelum kendaraan kembali ke Bumi, meski sempat terjadi kebakaran setelah pendaratan di laut. Penerbangan uji ke-14 Starship sementara dijadwalkan pada akhir Agustus, setelah program tersebut sebelumnya menghadapi sejumlah penundaan.
Bagi Musk, kemampuan Starship membawa satelit, peralatan, dan berbagai kebutuhan untuk membangun infrastruktur di orbit dalam jumlah sangat besar menjadi kunci bagi rencana jangka panjang SpaceX. “Sulit menjelaskan kepada kebanyakan orang betapa luar biasanya signifikansi Starship,” ujarnya. Menurutnya, kapasitas angkut tersebut menunjukkan seberapa besar pengaruh Starship terhadap masa depan peradaban. Musk memperkirakan roket itu kelak mampu membawa “lebih dari satu juta ton ke orbit dan mungkin pada akhirnya 10 juta ton per tahun”.
Karena itu, pabrik Bulan bukan sekadar proyek manufaktur terpisah, melainkan bagian dari rantai yang menghubungkan Starship, Starlink, AI, energi, dan produksi satelit di luar Bumi. SpaceX sebelumnya juga telah mengembangkan visi satelit komputasi AI di orbit. Dengan gravitasi Bulan yang lebih rendah, manufaktur dan peluncuran dari sana berpotensi menjadi tahap berikutnya jika teknologi dan infrastrukturnya benar-benar dapat diwujudkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022