
Rektor Binus University, Nelly. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), termasuk ChatGPT, semakin akrab di kalangan mahasiswa. Teknologi ini dinilai mampu membantu mempercepat proses belajar, memperluas wawasan, hingga mendorong cara berpikir yang lebih kritis.
Namun, di balik kemudahan tersebut, aspek etika dalam pemanfaatan AI menjadi perhatian penting.
Rektor Binus University, Nelly, mengatakan pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diiringi dengan pemahaman mengenai batasan dan etika penggunaannya. Karena itu, pengenalan AI di kampus tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran, tetapi juga dibarengi dengan penyusunan pedoman etika bagi mahasiswa maupun dosen.
"Pada saat kita menyiapkan bahwa fundamental AI itu ada di seluruh mata kuliah, kita juga pada saat itu menyiapkan etikanya apa. Dan saat ini kita sudah luncurkan etika baik itu untuk mahasiswa maupun itu untuk dosen tentunya," ujar Nelly dalam diskusi yang diselenggarakan Binus di Jakarta, Selasa (28/7).
Binus sendiri kembali menghadirkan beasiswa untuk perkuliahan tahun akademik 2027/2028, sebuah program beasiswa yang mendukung talenta muda Indonesia mengembangkan potensinya di berbagai bidang. Hal ini sejalan dengan Digital Transformation dan AI Experience Ecosystem yang ditekankan.
Artinya, dalam proses pembelajaran
akademiknya, dalam Universitas terdapat mata kuliah yang berkaitan dengan AI dan akan semakin banyak mata kuliah-mata kuliah lain yang nantinya akan menggunakan AI. Dengan ini, penggunaan AI harus sesuai dengan etika AI.
“Agar seluruh mahasiswa itu belajar bahwa ternyata AI bisa membantu, membantu kecepatan belajar, membantu berpikirnya lebih kritis, membantu membuka wawasannya lebih luas gitu. Nah, itu yang kita
lakukan dari akademiknya,” ungkapnya.
Menurut dia, penggunaan AI merupakan perkembangan dari cara manusia mencari informasi. Jika sebelumnya informasi diperoleh melalui buku, kemudian berkembang ke mesin pencari, kini AI mampu memberikan jawaban yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pengguna.
"Sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru. Dari dulu referensi itu ada, hanya kalau zaman dulu pakai buku, waktunya lama, cari informasinya lama, kemudian berubah dengan adanya mesin pencari informasi. Sekarang, kita bahkan mencari informasi itu bertanya dan dia menjawab apa yang kita cari," katanya.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
