Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Juli 2026 | 14.31 WIB

Penggunaan ChatGPT Makin Marak di Kalangan Mahasiswa, Akademisi Tekankan Pentingnya Etika AI

Rektor Binus University, Nelly. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Rektor Binus University, Nelly. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), termasuk ChatGPT, semakin akrab di kalangan mahasiswa. Teknologi ini dinilai mampu membantu mempercepat proses belajar, memperluas wawasan, hingga mendorong cara berpikir yang lebih kritis.

Namun, di balik kemudahan tersebut, aspek etika dalam pemanfaatan AI menjadi perhatian penting.

Rektor Binus University, Nelly, mengatakan pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diiringi dengan pemahaman mengenai batasan dan etika penggunaannya. Karena itu, pengenalan AI di kampus tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran, tetapi juga dibarengi dengan penyusunan pedoman etika bagi mahasiswa maupun dosen.

"Pada saat kita menyiapkan bahwa fundamental AI itu ada di seluruh mata kuliah, kita juga pada saat itu menyiapkan etikanya apa. Dan saat ini kita sudah luncurkan etika baik itu untuk mahasiswa maupun itu untuk dosen tentunya," ujar Nelly dalam diskusi yang diselenggarakan Binus di Jakarta, Selasa (28/7).

Binus sendiri kembali menghadirkan beasiswa untuk perkuliahan tahun akademik 2027/2028, sebuah program beasiswa yang mendukung talenta muda Indonesia mengembangkan potensinya di berbagai bidang. Hal ini sejalan dengan Digital Transformation dan AI Experience Ecosystem yang ditekankan.

Artinya, dalam proses pembelajaran
akademiknya, dalam Universitas terdapat mata kuliah yang berkaitan dengan AI dan akan semakin banyak mata kuliah-mata kuliah lain yang nantinya akan menggunakan AI. Dengan ini, penggunaan AI harus sesuai dengan etika AI.

“Agar seluruh mahasiswa itu belajar bahwa ternyata AI bisa membantu, membantu kecepatan belajar, membantu berpikirnya lebih kritis, membantu membuka wawasannya lebih luas gitu. Nah, itu yang kita
lakukan dari akademiknya,” ungkapnya.

Menurut dia, penggunaan AI merupakan perkembangan dari cara manusia mencari informasi. Jika sebelumnya informasi diperoleh melalui buku, kemudian berkembang ke mesin pencari, kini AI mampu memberikan jawaban yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pengguna.

"Sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru. Dari dulu referensi itu ada, hanya kalau zaman dulu pakai buku, waktunya lama, cari informasinya lama, kemudian berubah dengan adanya mesin pencari informasi. Sekarang, kita bahkan mencari informasi itu bertanya dan dia menjawab apa yang kita cari," katanya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore