Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2026 | 03.36 WIB

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Capai USD 360 Miliar, Meutya Hafid 'Spill' Tantangan Besar agar Nggak Cuma jadi Penonton

Menkomdigi Meutya Hafid. (Dok. Komdigi) - Image

Menkomdigi Meutya Hafid. (Dok. Komdigi)

JawaPos.com - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menilai Indonesia perlu mengambil peran yang lebih besar dalam ekosistem ekonomi digital global. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi berbagai layanan dan produk digital, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah serta menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi digital dunia.

Dorongan tersebut menjadi semakin relevan mengingat besarnya potensi ekonomi digital nasional. Saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia telah mencapai sekitar USD 100 miliar, tertinggi di kawasan ASEAN, dan diperkirakan meningkat hingga USD 360 miliar pada 2030. Potensi tersebut dinilai harus dioptimalkan agar dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.

Dalam Asia Economic Summit yang digelar di Jakarta Selatan, Rabu (17/6), Meutya menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar memperluas konektivitas digital.

“Menghubungkan masyarakat adalah bagian yang cukup mudah. Justru bagian yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berharga adalah menghubungkan sistem kita serta mengubah seluruh pertumbuhan itu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Inilah babak ketika Asia Tenggara tidak mau hanya menjadi pasar namun juga turut membentuk ekonomi digital dunia,” tegas Meutya Hafid.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memimpin transformasi digital di kawasan. Selain didukung populasi sekitar 281 juta jiwa atau hampir 40 persen dari total penduduk ASEAN, Indonesia juga memiliki sekitar 220 juta pengguna internet, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, serta aliran investasi asing langsung yang mencapai US$55 miliar sepanjang tahun lalu.

Meski telah menjadi pemain terbesar di ASEAN dari sisi nilai ekonomi digital, Meutya mengingatkan bahwa besarnya ukuran pasar belum tentu mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya.

“Indonesia telah menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan nilai sekitar USD 100 miliar atau hampir sepertiga dari total kawasan. Namun, besarnya angka tidak otomatis berarti kekuatan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah mendorong strategi retensi nilai agar manfaat ekonomi digital tidak lebih banyak mengalir ke luar negeri, melainkan dapat dinikmati dan berputar di dalam negeri. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM, petani, nelayan, dan berbagai usaha skala kecil lainnya.

“Sebagai contoh, nelayan kini bisa menjual hasil tangkapan langsung ke pasar melalui aplikasi dan mendapatkan pendapatan jauh lebih besar. Produsen kecil dapat menjangkau pelanggan di seluruh negeri bahkan kawasan tanpa perantara yang mengambil sebagian besar keuntungan. Inilah makna sebenarnya dari transformasi digital,” jelas Meutya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore