
Alexandro Wibowo, Co-Founder & partner Avonetiq (kiri). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Meningkatnya penggunaan platform kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai sarana mencari informasi mengubah cara perusahaan membangun visibilitas digital.
Menanggapi tren tersebut, Avonetiq memperkenalkan AVO AI (getavo.ai), sebuah platform yang dirancang untuk membantu perusahaan memantau dan memperkuat eksistensi merek mereka di berbagai layanan AI generatif, termasuk ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, dan Google AI Overviews.
Selama bertahun-tahun, optimasi digital identik dengan upaya meningkatkan peringkat di mesin pencari. Namun kini, konsumen semakin sering mengajukan pertanyaan langsung kepada sistem AI untuk memperoleh rekomendasi produk, membandingkan layanan, hingga melakukan riset sebelum melakukan pembelian.
Akibatnya, tingkat keterlihatan sebuah merek tidak lagi hanya ditentukan oleh posisi di hasil pencarian, tetapi juga oleh seberapa sering dan relevan merek tersebut muncul dalam respons AI.
Perubahan ini diperkirakan semakin nyata dalam beberapa tahun ke depan. Gartner memperkirakan penggunaan mesin pencari konvensional akan mengalami penurunan hingga 25 persen pada 2026 karena masyarakat mulai beralih ke chatbot dan agen virtual berbasis AI sebagai sumber informasi utama.
Di sisi lain, data Adobe Analytics menunjukkan lonjakan trafik dari platform AI generatif menuju situs ritel mencapai 1.200 persen dalam tujuh bulan terakhir, mengindikasikan bahwa AI telah menjadi jalur baru bagi konsumen dalam menemukan produk, layanan, dan informasi.
Melalui AVO AI, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana merek mereka ditampilkan oleh berbagai model AI. Platform ini menyediakan kemampuan untuk melacak frekuensi kemunculan brand, menelaah sumber referensi yang digunakan AI saat menghasilkan jawaban, mengevaluasi posisi dibandingkan kompetitor, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan peluang sebuah brand muncul dalam hasil percakapan AI.
AVO AI hadir dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan platform analitik digital tradisional. Jika alat analitik selama ini lebih berfokus pada performa situs web dan mesin pencari, AVO AI berupaya mengukur bagaimana sebuah merek dipahami, ditampilkan, dan direkomendasikan oleh sistem AI generatif yang kini semakin banyak digunakan masyarakat.
"Selama bertahun-tahun, perusahaan mengukur keberhasilan kehadiran digital melalui peringkat pencarian, traffic website, atau engagement. Namun ketika konsumen mulai bertanya langsung kepada AI, metrik tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan bagaimana sebuah brand ditemukan dan dipertimbangkan. Di sinilah kebutuhan baru mulai muncul," kata Alexandro Wibowo, Co-Founder & Partner Avonetiq di ICE BSD, Tangerang Selatan, Jumat (5/6).
Alexandro menilai bahwa perusahaan yang mampu membangun kredibilitas dan otoritas yang kuat di ekosistem AI berpotensi mendapatkan posisi yang lebih baik dalam proses pertimbangan konsumen, bahkan sejak tahap awal pencarian informasi.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
