
Ilustrasi ChatGPT (Dok. iStockphoto)
JawaPos.com — Bila sebuah tulisan di era sekarang terlihat terlalu sempurna, kerap kali muncul kecurigaan. apakah ini buatan manusia betulan atau bikinan artificial intelligence (AI)? Kalimatnya rapi, strukturnya teratur, namun anehnya tidak terasa “hidup”.
Bisa jadi itu adalah karya ChatGPT, chatbot AI yang kini populer dipakai untuk menulis berbagai teks mulai dari tugas sekolah hingga artikel berita.
Fenomena ini membuat banyak orang penasaran: adakah cara mudah untuk membedakan tulisan manusia dengan tulisan buatan ChatGPT? Menurut sejumlah pakar teknologi, ada beberapa pola yang bisa menjadi petunjuk.
Dilansir dari Tom’s Guide, tulisan AI sering membuka dengan kalimat yang terasa generik, misalnya “Pernahkah Anda bertanya-tanya…” atau “Di era digital saat ini…”. Rapi, tapi datar. Seperti template yang dipakai berulang-ulang tanpa variasi emosional.
ChatGPT gemar memakai frasa seperti “para ahli sepakat” atau “penelitian menunjukkan”, tapi tanpa menyebut siapa ahli atau penelitian mana. Tulisan manusia biasanya lebih spesifik dan menyertakan detail.
Tulisan ChatGPT cenderung memakai bahasa formal dan konsisten positif. Kalimatnya rapi, teratur, dan seolah selalu “benar”, tanpa keraguan.
Padahal, manusia biasanya menulis dengan variasi emosi, kadang serius, kadang santai, bahkan bisa menyelipkan humor atau keraguan. Perbedaan ini membuat teks AI terasa datar dan kurang alami.
Tulisan ChatGPT tidak punya “bumbu kehidupan nyata”. Tidak ada kisah kecil tentang pengalaman sehari-hari atau opini unik yang biasanya muncul dari penulis manusia.
Menurut New York Post, Salah satu ciri lain adalah pola penggunaan tanda baca yang agak aneh, misalnya terlalu sering menyelipkan tanda panjang di antara kalimat. Walau terlihat rapi, justru hal itu membuat tulisannya terasa mekanis dan tidak alami.
Selain membaca ciri-ciri di atas, kini ada banyak detektor AI seperti GPTZero atau Copyleaks. Namun, para peneliti memperingatkan bahwa akurasinya tidak selalu tinggi.
Bahkan bisa salah menuduh tulisan manusia sebagai karya AI, terutama dari penulis non-native English (arXiv).
Mengenali tulisan ChatGPT bukan berarti menolak AI. Justru, ini penting agar kita bisa lebih bijak: tahu kapan menggunakan bantuan AI, dan kapan harus mengandalkan suara asli kita sendiri.
Apalagi dalam dunia akademik, jurnalisme, hingga komunikasi publik, otentisitas adalah hal utama.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
