alexametrics

Perang Dagang Tiongkok-AS Makin Panas, Huawei Diputus Google dan Intel

Tak Bisa Akses Android Lagi
21 Mei 2019, 06:12:11 WIB

JawaPos.com – Kemelut Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok tampaknya semakin tak terbendung. Imbasnya, hubungan dagang kedua negara itu pun belum juga membaik. Malahan semakin memanas. Pemerintah AS pekan lalu mengumumkan sikap tegasnya untuk membatasi bisnis perusahaan Tiongkok di AS. Pernyataan tersebut bahkan terlontar langsung dari Presiden AS Donald Trump. Dampaknya pun lagi-lagi menyeret Huawei.

Trump menambahkan Huawei Technologies ke daftar hitam perdagangan AS. Atas mandat Trump tersebut, Huawei terancam tak berkutik di Paman Sam. Bahkan untuk bisnis smartphone-nya, Huawei terancam tak bisa digunakan lantaran Google patuh terhadap aturan pemerintah dan akan mencabut lisensi Android pada perangkat Huawei.

Sebagaimana JawaPos.com kutip SouthChinaMorningPost (SCMP), Senin (20/5), Alphabet Inc, induk perusahaan Google mengumumkan bahwa mereka akan mencabut dukungan untuk perangkat Huawei. Seperti sudah disinggung di atas, hal tersebut sebagai bentuk kepatuhan perusahaan AS atas seruan Trump untuk membatasi pergerakan bisnis perusahaan Tiongkok. Google Alphabet telah menangguhkan bisnis dengan Huawei yang melibatkan transfer perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan teknis akan terhenti (kecuali yang tersedia untuk umum melalui lisensiopen source).

Langkah ini tentu bak tamparan keras bagi Huawei karena dapat membuat bisnis ponsel mereka pincang di luar Tiongkok. Raksasa teknologi Tiongkok itu akan segera kehilangan akses ke pembaruan sistem operasi Google, Android. Termasuk smartphone Android Huawei mendatang akan kehilangan akses ke layanan populer seperti Google Play Store serta aplikasi Gmail dan YouTube. “Huawei hanya akan dapat menggunakan Android versi publik dan tidak akan bisa mendapatkan akses ke aplikasi dan layanan eksklusif dari Google,” kata sumber terdekat mengatakan kepada Reuters.

Ilustrasi: Logo Huawei. (Wang Zhao/AFP/Getty Image)

Dampak langsung yang akan terasa bagi pengguna Huawei adalah tidak bisa menggunakan perangkat secara maksimal. Hal ini jelas. Pasalnya, Google selaku si empunya Android membatasi atau bahkan memutus dukungannya untuk perangkat Huawei.

Hal pertama yang terjadi adalah para pengguna Huawei di luar Tiongkok tidak akan mendapatkan pembaharuan sistem operasi Google termasuk layanan eksklusif serta aplikasi bawaannya seperti Google Play Store dan Gmail. Namun, perangkat Huawei masih bisa digunakan melalui lisensi open source atau yang dikenal sebagai Android Open Source Project (AOSP). Ini tersedia secara gratis bagi siapa saja yang ingin menggunakannya.

“Ada sekitar 2,5 miliar perangkat Android aktif di seluruh dunia. Namun Google akan berhenti memberikan Huawei akses, dukungan teknis, dan kolaborasi yang melibatkan aplikasi dan layanan eksklusifnya ke depan,” kata sumber itu lagi.

Singkatnya, dengan dicabutnya dukungan teknis dari Google, aplikasi Google populer seperti Gmail, YouTube, dan browser Chrome yang tersedia melalui Google Play Store akan menghilang dari handset Huawei di masa depan. Sebab, layanan tersebut bukan termasuk lisensi open source dan memerlukan perjanjian komersial dengan Google.

Ketentuan tersebut berlaku untuk perangkat Huawei generasi mendatang. Sementara bagi pengguna perangkat Huawei yang sudah beredar saat ini masih memiliki akses penuh ke Google Play Store dan akan tetap dapat mengunduh pembaruan aplikasi, juga layanan Google lainnya.

Sementara itu, Huawei tampaknya tidak gentar atas keputusan pemerintah AS tersebut. Perusaan Tiongkok itu malahan mengaku sudah menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk menyiapkan rencana darurat seandainya diblokir dari penggunaan Android. Perusahaan tengah menyiapkan sistem operasi bikinan sendiri untuk perangkatnya. Beberapa teknologi tersebut bahkan dikatakan sudah digunakan dalam produk yang dijual di Tiongkok.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada Maret, Rotating Chairmant Huawei Eric Xu mengaku telah membuat catatan menantang untuk mengantisipasi tindakan pembalasan oleh perusahaan-perusahaan AS. “Apa pun yang terjadi, komunitas Android tidak memiliki hak hukum untuk memblokir perusahaan mana pun dari mengakses lisensi sumber terbuka,” katanya.

Produsen Chip Ikut Putus Hubungan dengan Huawei

Selain Google, perusahaan AS lainnya juga akhirnya ikut-ikutan memusuhi Huawei. Perusahaan yang dimaksud adalah beberapa perusahaan pembuat chipset. Laman TheVerge menyebut tiga perusahaan perancang dan pemasok chipset dunia yang dimaksud adalah Intel, Qualcomm, dan Broadcom. Ketiga perusahaan itu segera memberlakukan pemutusan hubungan dengan Huawei.

Menurut sumber Bloomberg, karyawan di seluruh pabrikan pembuat chip utama AS telah diberitahu bahwa perusahaan mereka akan membekukan penawaran pasokan dengan Huawei sampai pemberitahuan lebih lanjut. Intel memberi Huawei chip server dan prosesor untuk jajaran laptopnya, sementara Qualcomm kurang menonjol dalam menyediakan modem dan prosesor lainnya. Huawei sebenarnya cukup terisolasi dari dampak Qualcomm karena membangun prosesor dan modem seluler sendiri dengan merek Kirin.

Laporan Bloomberg lainnya menunjukkan bahwa Huawei juga telah mempersiapkan kemungkinan ini dengan menimbun chip dari pemasok AS untuk bertahan setidaknya tiga bulan. Jangka waktu tersebut seharusnya cukup untuk mengetahui apakah tindakan itu merupakan taktik untuk menakut-nakuti atau memang pengenaan permanen dari pemerintah AS.

Sementara berdasarkan laporan Nikkei, pembuat chip Jerman Infineon Technologies juga telah menangguhkan pengiriman ke Huawei. Sumber-sumber Nikkei menunjukkan bahwa Eropa mungkin masuk dalam barisan pemerintah AS juga. “Infineon memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih hati-hati dan menghentikan pengiriman. Tetapi akan mengadakan pertemuan minggu ini untuk membahas (situasi) dan membuat penilaian,” kata seorang sumber kepada Nikkei.

Namun begitu, dalam sebuah pernyataan, Infineon membantah kabar tersebut dan mengatakan bahwa sebagian besar produk yang diberikan Infineon ke Huawei tidak tunduk pada pembatasan undang-undang kontrol ekspor AS. Oleh karena itu pengiriman akan dilanjutkan. Nikkei juga melaporkan bahwa pembuat chip Eropa ST Microelectronics sedang membahas pengiriman lanjutannya ke Huawei.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Rian Alfianto