Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 01.30 WIB

Chatbot dan Digital Medicine: Saat Konsultasi Kesehatan Bisa Dijawab Detail oleh Mesin

Ilustrasi: Tren digital medicine, masyarakat ingin yang lebih cepat, konsultasi kesehatan bisa pakai chatbot. (Istimewa). - Image

Ilustrasi: Tren digital medicine, masyarakat ingin yang lebih cepat, konsultasi kesehatan bisa pakai chatbot. (Istimewa).

JawaPos.com - Chatbot kini menjadi bagian dari gelombang besar digital medicine yang mengubah cara layanan kesehatan diberikan. Dari Amerika Serikat hingga Asia, teknologi ini dimanfaatkan bukan hanya untuk menjawab pertanyaan dasar. 

Lebih jauh, chatbot juga saat ini banyak dimaksimalkan untuk membantu tenaga medis mengakses informasi terkini, mengelola pasien, dan mempercepat proses edukasi kesehatan.

Di Indonesia, tren ini semakin relevan. Keterbatasan akses terhadap dokter spesialis dan tingginya angka pengobatan mandiri membuat masyarakat kerap menjadikan apotek sebagai titik pertama pencarian solusi. 

Studi terbaru bahkan menunjukkan hampir separuh pasien Indonesia lebih memilih mengobati diri sendiri sebelum berkonsultasi dengan dokter. Dalam kondisi ini, apoteker menjadi garda terdepan, namun sering kali tidak memiliki dukungan teknologi yang memadai.

Di tengah situasi itu, Haleon Indonesia memperkenalkan Haleon Pain Management Institute (HPMI) dan ARJUNA, chatbot berbasis WhatsApp yang ditujukan khusus untuk tenaga kesehatan. Peluncuran ini dilakukan dalam forum Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Jawa Barat 2025 di Bandung.

Chatbot ARJUNA dikembangkan sebagai asisten virtual yang bisa menyediakan akses cepat ke informasi produk, materi edukasi, hingga pendaftaran kegiatan ilmiah. 

Namun lebih dari itu, kehadirannya mencerminkan arah baru praktik farmasi di era digital: apoteker tidak lagi sebatas penyedia obat, melainkan penasihat kesehatan yang perlu didukung data, riset, dan teknologi.

Dhanica Mae Dumo-Tiu, Presiden Direktur Haleon Indonesia, menyatakan, studi internal mereka menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh masyarakat Indonesia mempercayai apoteker untuk saran pengelolaan nyeri. 

"Kepercayaan ini menempatkan mereka di jantung layanan kesehatan komunitas dan menyoroti kebutuhan akan dukungan yang lebih baik. Dengan peluncuran HPMI dan
ARJUNA, kami membekali apoteker dengan alat dan pengetahuan untuk memenuhi ekspektasi tersebut," kata dia melalui keterangannya.

Ketua HISFARMA Jawa Barat menilai, di wilayah dengan beban kesehatan tinggi seperti Jawa Barat, dukungan digital bisa membantu apoteker melayani masyarakat dengan lebih efektif. 

Akademisi pun menegaskan, transformasi digital adalah keharusan agar tenaga farmasi tetap relevan di tengah arus digital medicine yang kian kuat.

Peluncuran HPMI dan ARJUNA menjadi salah satu contoh bagaimana industri farmasi berupaya beradaptasi dengan perubahan lanskap kesehatan global.

Lebih luas lagi, ini menunjukkan bahwa masa depan layanan kesehatan Indonesia mungkin akan semakin ditopang oleh kombinasi keterampilan manusia dan teknologi digital.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore