Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Agustus 2025 | 17.24 WIB

Ancaman Penipuan Digital Hantui Sektor Jasa Keuangan di Era Digital, Kolaborasi Fintech dan Perbankan Jadi Kunci Perkuat Keamanan Data Nasabah

Ilustrasi serangan siber mengintai ponsel. (We Live Security) - Image

Ilustrasi serangan siber mengintai ponsel. (We Live Security)

JawaPos.com - Ancaman penipuan digital terus menghantui sektor jasa keuangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Menyadari hal ini, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Privy menggelar Online Fintech Talk bertema Fighting Digital Fraud: Membangun Digital Trust Layanan Perbankan melalui Inovasi Identitas Digital yang diikuti lebih dari 80 peserta dari industri perbankan, fintech, teknologi, hingga masyarakat umum.

Kegiatan ini menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran akan risiko fraud digital, mengedukasi peran identitas digital dan kecerdasan buatan (AI) dalam pencegahannya, serta memperkuat kolaborasi antara regulator, perbankan dan pelaku fintech demi terbangunnya kepercayaan di layanan keuangan digital.

Wakil Sekretaris Jenderal II AFTECH, Saat Prihartono dalam keterangan tertulisnya menegaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi layanan dan keamanan digital. Hal ini untuk menjawab kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, tetapi kemudahan akses harus diimbangi dengan sistem keamanan dan infrastruktur TI yang andal.

Proses e-KYC merupakan pintu gerbang layanan digital sekaligus titik rawan terjadinya identity fraud, terlebih dengan ancaman baru seperti penyalahgunaan teknologi deepfake AI. “Strategi anti-fraud yang komprehensif dan pemanfaatan AI untuk deteksi anomali secara real-time menjadi kunci menjaga digital trust di sektor jasa keuangan,” ujarnya.

Perubahan perilaku nasabah yang menginginkan layanan cepat, praktis, dan terintegrasi telah mendorong transformasi besar-besaran di sektor perbankan digital. Mulai dari pembukaan rekening, proses onboarding, pembayaran, transaksi e-commerce, pengajuan pinjaman, investasi, hingga pengelolaan keuangan kini bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini juga membawa risiko baru, salah satunya identity fraud yang kian canggih dengan hadirnya teknologi deepfake AI.

Menurut data, Indeks Literasi Keuangan Indonesia pada 2025 baru mencapai 66,46%, sementara Indeks Literasi Digital 2024 ada di angka 3,78 dari skala 5. Rendahnya literasi ini membuat masyarakat rentan menjadi korban penipuan digital. Laporan IBM Cost of Data Breach 2024 bahkan mencatat rata-rata kerugian akibat pencurian data pribadi secara global mencapai USD 4,9 juta, naik 10% dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu, CEO Privy Marshall Pribadi menjelaskan, identitas digital yang dikelola Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) berperan sebagai pihak ketiga netral dalam setiap transaksi elektronik.

“Dengan memanfaatkan identitas digital, industri jasa keuangan dapat menyederhanakan proses onboarding nasabah tanpa mengorbankan keamanan. Selain kenyamanan bagi nasabah, setiap sertifikat elektronik memiliki certificate warranty sebagai mitigasi risiko bagi penyedia jasa keuangan,” paparnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore