Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2017 | 05.20 WIB

Menguji Komitmen Pernyataan Pendiri Telegram

Pendiri Telegram Pavel Durov - Image

Pendiri Telegram Pavel Durov

JawaPos.com - Pendiri Telegram Pavel Durov mengakui jumlah pengguna Telegram di Indonesia cukup banyak. Karena itu dia menolak keputusan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk memblokir aplikasi yang digawangi tersebut.
Atas upaya pemblokiran dari Kemenkominfo itu, Pavel menawarkan tiga solusi untuk menyaring sejumlah konten terorisme dan ujaran kebencian. Akankah solusi itu disepakati pemerintah Indonesia?


Pakar IT Security Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) Setiadi Yazid mengatakan, secara teknis masalah komunikasi antar teroris tetap belum selesai meski Telegram diblokir.


Usaha menyaring isi berita tidak akan 100 persen efektif, karena software yang digunakan bisa saja salah dalam mengartikan suatu berita. "Dan dengan kesalahan ini berarti mungkin juga berita yang tidak berkaitan dengan terorisme akan ikut tercekal," tegasnya kepada JawaPos.com, Minggu (16/7).


Dampak lain, kata Setiadi, solusi ini membutuhkan Telegram untuk membaca semua berita yang lewat. Artinya privasi pengguna tidak lagi terjaga. "Dan ini akan membuat pengguna Telegram tidak akan senang. Jadi kemungkinan besar Telegram tidak akan menerapkan penyaringan ini sepenuhnya," tukasnya.


Setiadi menduga bisa saja kebijakan itu hanya diberlakukan untuk Indonesia saja. Atau mungkin juga hanya sebagai pernyataanuntuk menunda pemblokiran dari pemerintah Indonesia.


"Secara teknis pemblokiran konten atau isi berita cukup sulit untuk dijamin efektifitasnya. Selain itu akan sulit juga untuk mendeteksi ada atau tidaknya kebocoran dalam usaha pemblokiran ini," ungkapnya.


Berikut tiga solusi yang ditawarkan Pendiri Telegram Pavel Durov kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)


1. Kami telah memblokir seluruh kanal yang berkaitan dengan terorisme seperti yang telah dilaporkan oleh Kemenkominfo.


2. Saya mengirim email balik ke Kemenkominfo untuk membangun kanal komunikasi langsung. Itu akan membuat kami bekerja lebih efisien untuk mengidentifikasi dan memblokir propaganda teroris di masa depan.


3. Kami akan membangun tim yang memiliki pengetahuan tentang bahasa Indonesia dan kultur untuk menjadi moderator yang bisa memproses berbagai laporan terkait konten teroris dengan lebih cepat dan akurat. (cr1/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore