Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Januari 2021 | 05.26 WIB

Dunia Pergagalan

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Gagal itu cuma nama yang salah. Gagal sejatinya cuma kesalahan manusia menamai hasil yang sesuai kehendak-Nya, tapi tak sesuai keinginannya.

---

PULAU rada mengerikan yang jauh dari ”Tibet” ini Gagal Ganda Bathang namanya. ”Ganda” harum maknanya. ”Bathang” maknanya bangkai. Walau tak berserakan mayat manusia maupun bathang-bathang binatang, pulau yang penuh pohon kesemek, empang, dan kemundung itu memang menyengat hidung. Warga menggunakan masker dari dedaunan?

Tidak! Aroma menyengat bacin keamis-amisan itu hanya berlaku bagi pendatang. Para dewa telah menyihir warga setempat untuk selalu gagal mengendusnya.

Tak sedikit, memang, para pendatang ke pulau yang mirip semenanjung itu. Mereka kebanyakan pendekar-pendekar muda, lelaki-perempuan. Mencari Kitab Mas Elon. Itu misi rahasia mereka. Rahasia, sebab tak satu pun bersedia terbuka mengakui demi apa mereka hadir. Bahkan bila mereka merasa bisa menjalin kerja sama dalam misi tunggal.

***

Di bawah kemundung tua yang dihinggapi banyak burung kepodang, terjadi perbincangan antara lelaki dan perempuan pendekar pendatang. Tentu keduanya sambil menutup hidung dengan masker alami.

”Jadi, betulkah Kisanak ini Pendekar Gagal Sewu Kutho yang kondang bisa memindahkan awan itu?”

Mulut dan pipi yang ditanya tak tampak reaksinya sebab tertutup masker daun jati. Tapi, sudut matanya jelas tersipu-sipu, ”Nan Ndalem tahu namaku dari mana? Maaf ...Jangan asal tuduh seperti buzzer.”

”Buzzer?”

”Oh, ini istilah masa depan bagi lebah-lebah yang mendengung, buzzing. Melintas dalam impianku semalam saat ketiduran di tepi empang itu. Tawon-tawon Ndasmu, nama lebah-lebah itu, mendengung-dengungkan keagungan pendekar yang ngasih pakan mereka seraya mencaci maki para pendekar pihak seberang.”

”O, Kisanak, bukan buzzer aku bila begitu. Tak asal menuduh, penilaianku berlandas fakta. Hidung Kisanak, mata, gerak bibir saat bicara, dan seluruh perawakan Kisanak mengingatkanku pada santernya kasak-kusuk dunia persilatan tentang Kisanak. Apalagi kemarin kusaksikan sendiri. Empat puluh buaya Kisanak ladeni... membunuhnya tanpa menjadi bangkai sebab semuanya tetiba menguap menjadi awan kelam yang meliuk-liuk bagai buaya di dirgantara.”

”Ah, Mawar Biru, jadi malu hamba.”

Pendekar perempuan bercundrik (keris kecil khusus buat perempuan) yang kelak di zaman kalian namanya akan menjadi judul lagu keroncong sendu itu tak terperanjat Gagal tahu namanya. Selain ngetop terampil memindah-mindah awan, pendekar bersarung tangan itu memang terkenal juga sanggup menebak nama dan riwayat perempuan asing, terutama kalau perempuan itu cantik dan sangat surgawi hidung, bibir, pipi, dan dagunya. Cuma, pertanyaannya, bagaimana dia bisa tahu hal-hal penting yang disembunyikan masker.

”Aku tidak pakai masker transparan yang kelak akan populer,” pikir Mawar Biru. ”Masker yang ini daun kuping gajah utuh, bukan daun yang sisa urat-urat lembutnya saja lantaran mingguan direndam di lumpur got.”

Dulu Mawar Biru sudah tertidur saat kakeknya mendongeng bahwa lelaki sejati cukup memandang mata dan kening perempuan. Dari situ lelaki sejati sudah bisa menggambar bibir, hidung, pipi, dan dagu perempuan itu pada kanvas di benaknya. Entah kalau lelaki-lelaki masa depan di zamanmu, zaman Elon Musk, zaman orang terkaya yang ingin memindahkan manusia ke Planet Mars. Barangkali lelaki-lelaki zaman itu sudah tak punya imajinasi lagi sehingga para perempuannya merasa terdesak untuk mencadari parasnya dengan masker transparan.

***

Masih di bawah kemundung tua sebelah kesemek. Angin berembus dari empang selatan. Mawar Biru membatin, ”Kitab Mas Elon itu tak dijaga oleh dewa-dewa siang bolong.”

Benar, di siang bolong, hanya ada satu–dua petani, atau ibu-ibu warga biasa yang mungkin melewati gerbang Setra Ganda Mayit tempat kitab rahasia itu diduga disemayamkan. Kalau melihat orang bermasker rakyat itu sampai berteriak, ”Orang asing! Maling!”, yang mungkin tak digubris oleh para petinggi pulau yang terhormat namun didengar langsung oleh para dewa, tamatlah riwayat para calon pencuri kitab.

”Kalau di siang bolong Sang Gagal memindahkan awan sehingga pulau ini pekat tertutup awan, keadaan bakal senyap gulita. Aku bisa menyusup ke Setra Ganda Mayit.” Ini pun hanya dibatin Mawar Biru. Ia bendung dirinya untuk membocorkan misi mencari Kitab Mas Elon dan mengajaknya kerja sama.

”Pendekar Mawar Biru yang bibirnya tanpa gincu sudah semerekah mawar merah ini daya susupnya tanpa tanding. Bagaimana kalau kutawarkan kerja sama? Pulau ini kuhijabi awan-awan. Kubikin siang bolong jadi gulita? Mawar Biru menyusup?”

Itu pun hanya ada di batin Gagal. Ia menembok diri untuk tak membocorkan misi pencurian Kitab Mas Elon, kitab yang diyakini bisa mencerahkan orang untuk berpikir jauh ke depan tentang bagaimana pindah ke lain planet, di saat orang-orang masih sibuk berpikir pindah ke lain hati.

Nun di tempat yang mirip Tibet, Tingting Jahe sedang mengendap-endap berpindah dari lelaki tua yang gagal dinikahinya, Pendekar Sastrajendra, menuju pulau Gagal Ganda Bathang. (*)




SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/B01PVvbmKbU

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore