Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 November 2020 | 20.10 WIB

Lobster Garuda Bertanduk Beringin

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Hari masih malam bagi bocah Perawan Tingting Bakul Kedai. Tingting, panggilan bocah 8 tahunan yang baru minggat dari gunung salju itu, sangat gelisah.

---

NYATA sekali maunya untuk segera membesokkan malam ini. Beberapa ekor nyamuk seperti pasang sirene di seputaran kuping Tingting, persis aksi sebagian pejabat di zamanmu kalau mau pergi-pergi.

Dan nyamuk-nyamuk di dusun sungai Kake’anmu itu, entah sarjana entah tidak, semuanya menyebalkan. Kan nyamuk di mana pun kalau disaluti pakai keplok-keplok mati di telapak tangan? Ini tidak! Semakin kita tepuk tangani, semakin mereka ke-geer-an. Bunyi sirene lantas semakin berseliweran di telinga kanan-kiri.

*

Pagi toh datang juga walau tak segera semau Tingting. Suasananya tak terdapat di gunung salju. Suara kutilang di pucuk-pucuk cempaka berombak-ombak. Panjangnya tak terkira. Suatu kicau yang asing bagi Tingting, namun hinggap di hatinya dengan langsung begitu akrabnya.

Pantesan bocah ajaib yang sekali melompat bisa tujuh kali keliling bumi ini semalam tak sabar ingin lekas pagi.

Itulah suatu pagi sebelum ada Candi Borobudur, Gunung Merapi tampaknya juga belum eksis. Semacam pasar mengapung telah sibuk. Kesibukan bukan lantaran barter sayur-mayur, ikan, dan daging. Harun dengan ikat kepala padang pasir melelang pusakanya. Wujudnya lobster mutiara. Warnanya merah hati garuda. Lobster keramat ini bertuah. Siapa pun kolektornya akan mendadak tajir. Itu yang membuat Harun di atas sampan biru dikerubungi banyak orang. Sampan-sampan di sekitarnya sampai oleng. Ada yang bahkan badan perahunya sudah hampir tak tampak.

Dari pagi sampai menjelang sore, lelang berlangsung damai. Penawar terakhir bersedia membarter pusaka lobster mutiara itu dengan rumah panggung papan. Asli kayu jati 1.000 tahun umurnya. Baru saja mereka akan salaman menyeruak penawar baru. Lobster pusaka merah hati garuda itu akan dibarter lobster yang capitnya berwujud tanduk.

Bukan tanduk biasa. Bukan tanduk kerbau atau sapi. Lobster itu bercapit tanduk banteng! Semua warga dusun sungai Kake’ane tahu, lobster bertanduk banteng ini dulu pernah akan dibarter 10 rumah panggung papan jati tua umur 1.000 tahun. Tak dilepas.

Tak heran Harun akan melepas lobster pusakanya. Tapi merangsek lagi penawar baru. Seorang perempuan paro baya, rambutnya pendek, berdiri di lunas perahu. Namanya Masinu. Kepada Harun Masinu berseru, ”Lobster bertanduk banteng ini mah gampang ditangkar. Tinggal celupi air dari Laut Rek Ayo Rek (di zamanmu disebut Laut China Selatan) saja ke tambaknya. Tambah puasa 40 hari. Muncul tuh tanduk bantengnya.”

Orang-orang bertepuk tangan. Tapi, Masinu bukan nyamuk. Ia tak mati, malah mengacungkan sesuatu. Lobster jenis baru.

”Lihat. Lobster saya ini coba kalian lihat. Bertanduk beringin!!! Untuk bisa tumbuh tanduk berbentuk beringin, selain tambaknya perlu air Laut Rek Ayo Rek, juga perlu air dari Mangan Tahu Jo Dicampur Nganggo Timun (sekarang disebut Amerika Serikat). Ambil air ke sana. Bolak-balik. Tiga tahun lamanya. Belum puasanya, 40 hari? Tak cukup. Minimal 1.000 hari!!!”

Begitulah kepada Harun Masinu berkata. Harun bangkit. Sejak pagi belum pernah ia begitu kepada penawar terakhir. Biasanya ia cuma menyeka wajahnya yang berminyak, sedikit beranjak, lalu kembali bersila karena muncul penawar baru. Sekarang lelaki itu berdiri. Bukan saja berdiri, Harun ke Masinu seperti hendak menghambur saking senangnya kepada perempuan penawar tertinggi ini.

*

Itu situasi pasar apung pagi ke sore.

Sore ke petang situasi sedikit berbeda. Seluruh sungai perlahan-lahan menegang hingga ke puncaknya, regu jagabaya menyetop lelang. Harun bersikukuh bahwa ia sudah mengantongi izin dari jagabaya. ”Bacot! Jagabaya yang mana!?” tanya ketua regu jagabaya itu.

”Ya, pokoknya jagabaya!” tandas Harun. Masinu menimpal, ”Masak jagabaya dan jagabaya bisa beda-beda. Seragamnya juga sama, kok.”

Kemudian, ibu-ibu paro baya pembawa lobster bertanduk beringin itu ditenggelamkan entah oleh siapa. Susi dari regu jagabaya merasa kecolongan. Sumpah, regunya datang ke perairan ini hanya untuk menenggelamkan lelang. Titik. Bukan untuk menangkap perempuan pembawa lobster bertanduk beringin. Ini agenda siapa? Dan Masinu itu ditenggelamkan ke mana kok tanpa jejak riak?


”Jangan-jangan ini operasi senyap dari pucuk pemimpin dusun Kake’ane?” ketua regu penasaran. Ia bertanya ke wakilnya. Yang ditanya bukan saja merasa ditanya. Ia merasa dicurigai dan menghunus pedangnya.

Ya, betapa pun pasar apung di perairan ini bukanlah dunia perairan, bukan pula dunia pasar. Ini adalah dunia persilatan! Dalam sekejap seluruh lelaki di atas setiap perahunya sudah memasang kuda-kuda dengan masing-masing senjatanya.

Anehnya, tak satu pun senjata kena sasaran. Setiap pedang, toya, dan lain-lain disabetkan atau dihunjamkan ke lawan, kuda-kuda penyabet atau penghunjamnya bergoyang akibat guncangan perahu. Kadang bergantian kadang bersamaan perahu-perahu itu diguncang dari dalam air oleh keisengan bocah ajaib yang tahan menyelam dan baru minggat dari Pendekar Sastrajendra pengasuhnya. (*)

SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=AlGtEtbhXEg

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore