
Photo
JawaPos.com – Seiring kasus Covid-19 melandai, sekolah-sekolah tampaknya sudah tidak sabar untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo, misalnya. Sekolah ini telah menggelar uji coba tahap awal untuk kelas kecil. Mulai siswa kelas I hingga kelas III.
Dengan jumlah maksimal siswa tiap kelas hanya 10 anak. Setiap jenjang hanya ada 3 kelompok siswa yang belajar. Total untuk kelas I hingga III, ada sembilan kelompok. Jumlah kecil tersebut memudahkan untuk melakukan pengawasan.
Selain itu, jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan seperti siswa sakit, mudah dilacak. Untuk menghindari kerumunan dan pertemuan anak dalam jumlah besar, jadwal masuk pun diatur secara ketat. ’’Siswa kelas I masuk pukul 07.00. Anak kelas II masuk pukul 07.30 dan jadwal masuk murid kelas III pukul 08.00. Lamanya waktu belajar masing-masing 2,5 jam,’’ kata Kepala SDIT Nurul Fikri Sidoarjo Siti Maemunah SPd.
Selama proses PTM, AC di dalam kelas dimatikan. Jendela dibuka agar sirkulasi udara berjalan lancar. Hal itu sesuai dengan standar prokes yang ditetapkan bahwa tidak boleh terlalu lama di dalam ruangan ber-AC.
Siti menyatakan bahwa pihaknya juga tidak menjadwalkan kegiatan makan bersama untuk para siswa. Ibadah pun tidak bersama, tetapi dilakukan di rumah masing-masing seusai pulang sekolah. ’’Setelah pulang sekolah, para siswa diberi materi lagi melalui Zoom. Tapi, hanya dalam waktu satu jam,’’ lanjutnya.
Zoom diisi dengan kegiatan tahfiz, ekstrakurikuler, ataupun pelajaran lain. Setiap minggu para siswa juga diberi tugas yang wajib diselesaikan dalam kurun waktu sepekan. Dengan demikian, meski tidak berada di sekolah, pembelajaran tetap berjalan.
Pihak sekolah juga tidak memaksa para siswa untuk mengikuti PTM. Siswa yang belajar di rumah bisa mengikuti proses PTM di sekolah melalui Zoom. Jadi, mereka tetap bisa merasakan suasana sekolah. ’’Sebagian besar sudah mengikuti PTM terbatas. Tapi, masih ada yang tetap daring,’’ ucap Siti.
Mulai pekan depan, proses PTM terbatas untuk kelas IV, V, dan VI. Dengan jadwal yang sama. Namun, jumlah siswa satu kelas lebih banyak. Maksimal 15 anak. Untuk tahap awal, siswa mengikuti PTM sepekan sekali. Selanjutnya meningkat menjadi dua kali dalam seminggu. ’’Ke depan, jika sudah 50 persen ke atas, bisa tiga kali per pekan. Dengan sistem masuk bergelombang. Maksimal per kelompok tetap 15 anak,’’ ujarnya.
Siti menyatakan bahwa prestasi itu penting. Namun, menumbuhkan karakter untuk berprestasi dan berkontribusi untuk peradaban jauh lebih penting. Termasuk menjaga dan mengutamakan kesehatan para siswa. ’’Karena hanya dengan tubuh yang sehat, kami bisa berkontribusi maksimal,’’ ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Mengulik Penyebab Rans Carnival Diboikot, Deklarasi Mahasewa hingga Share Revenue UMKM 20 Persen
Profil AKBP Netty Rosdiana, Istri Jenderal Polisi yang Pernah Sindir Seskab Teddy 'Lupa Daratan'
Prediksi Skor Garudayaksa vs PSS Sleman: Sama-Sama Terluka, Duel Pakansari Rawan Berakhir Imbang
5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
Fitrah Maulana Syukuri Debut dan Cleansheet di ACL Two Bersama Persib Bandung
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs PSS Sleman: Kejutan atau Deja vu Final Championship Musim Lalu
Prediksi Skor Dewa United vs Persija di Super League: Macan Kemayoran Amankan Poin Penting di Banten
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
Jack Miller Ungkap Alasan Marah di Sprint Race MotoGP Malaysia, Minta Maaf ke Pramac Yamaha

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022