Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Desember 2022 | 23.20 WIB

Jelang Akhir Tahun, Pengadaan 36 Feeder di Surabaya Belum Terealisasi

Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati. (DPRD Surabaya/Antara) - Image

Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati. (DPRD Surabaya/Antara)

JawaPos.com- DPRD Surabaya kembali menagih janji Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya untuk mendatangkan 36 feeder atau angkutan pengumpan. Sebab, hingga menjelang tutup tahun, angkutan pengumpan itu tidak kunjung tiba.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati mengatakan, pihaknya sudah menanyakan perihal itu ke Bagian Pengadaan Barang/Jasa dan Administrasi Pembangunan (BPBJAP) Pemkot Surabaya.

Pemkot pun belum bisa memastikan apakah 36 unit feeder bisa didatangkan sekaligus atau tidak. Sangat bergantung pada mekanisme transaksi yang dilakukan dishub. Apakah sistem paket atau per unit. ”Kalau per unit, ya datangnya satu per satu. Tidak sekaligus,” kata Aning.

Dewan tidak mempersoalkan apakah pengadaan menggunakan sistem paket atau tidak. Aning meminta penyediaan feeder jangan sampai ditunda. Meskipun, angkutan itu baru bisa beroperasi pada tahun depan. Sebab, dewan sudah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan 36 unit feeder pada tahun anggaran 2022. ”Kami selalu berharap bisa terealisasi (pengadaan feeder, Red),” ujarnya.

Menurut Aning, ada dua kemungkinan mengapa feeder belum didatangkan. Pertama, pihak kontraktor meleset dari target. Mereka belum bisa mendatangkan angkutan itu ke Surabaya. Jika demikian, yang bersangkutan bisa dikenai sanksi. Yaitu, blacklist. Apalagi dishub juga sudah meneken kontrak dengan pihak penyedia. ”Kalau seperti itu, berarti murni kesalahan kontraktor,” tuturnya.

Bisa juga faktor lain. Misalnya, tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) tidak memberikan porsi prioritas anggaran pada pengadaan feeder. Akibatnya, anggarannya dialihkan untuk kebutuhan yang lain. Dengan demikian, anggaran pengadaan feeder senilai Rp 25 miliar tidak jadi dialokasikan. ”Ini baru spekulasi. Yang bisa jawab ya TAPD,” tegas Aning.

Selama ini, pengadaan feeder molor karena syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sampai 40 persen. Syarat itu sangat terasa bagi Surabaya dalam pengadaan barang dan jasa.

Faktor lain adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM). Untuk mengoperasikan feeder, sedikitnya dibutuhkan 400 orang. Itu meliputi driver dan helper. Nah, persiapan tersebut membutuhkan rekrutmen. Padahal, sejak pertengahan 2022, DPRD sudah mengingatkan dishub untuk mempercepat rekrutmen. Namun, hingga sekarang belum terealisasi.

Anggota Komisi C DPRD Surabaya William Wirakusuma mengatakan, seharusnya pengadaan feeder bisa dilakukan tahun ini. Dengan begitu, angkutan itu bisa beroperasi mulai Januari 2023. ”Karena operasional sangat ditunggu warga,” kata William.

Keberadaan feeder sangat mendukung kelancaran transportasi massal di metropolis seperti Suroboyo Bus (SB) atau Trans Semanggi Suroboyo (TSS). Feeder akan beroperasi dari perkampungan ke jalur-jalur utama transportasi publik.

---

FUNGSI FEEDER


  • Warga tidak direpotkan dengan memakai kendaraan pribadi dari rumah ke halte SB atau TSS.

  • Feeder masuk ke perkampungan untuk menjemput penumpang.

  • Mengurangi waktu tunggu transportasi publik di halte.

  • Menarik minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.


Sumber: Reportase Jawa Pos

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore