
Photo
JawaPos.com- Dr Taufikurrahman Saleh, mantan politikus senior NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), berpulang Jumat (20/1) malam. Alumnus Fakultas Hukum (FH) Unair angkatan 1981 itu meninggal dunia di usia 74 tahun karena serangan penyakit jantung. Ucapan duka cita pun mengalir dari beragam kalangan.
Sejumlah karangan bunga pun banyak berjajar di kediamannya. Yakni, di Jalan Rungkut Asri IV/3, Surabaya. Mulai dari bupati, Gubernur dan Wagub Jawa Timur, hingga Menko PMK. Almarhum dimakamkan pada Sabtu (21/1) pagi, pukul 10.00 WIB, di Makam Islam Tenggilis Utara, Surabaya.
‘’Innalillaahi wa inna ilaihi rajiun. Ikut berbela sungkawa atas wafatnya Cak Opik (panggilan almarhum, Red). Semoga Allah SWT memberikan pahala atas semua amal kebaikannya dan mengampuni semua khilafnya serta bagi keluarga yang ditinggalkannya diberikan ketabahan dan keihlasan. Lahul Fatihah,’’ ungkap Khofifah Indar Parawansa, gubernur Jawa Timur.
Semasa hidup, Cak Opik dikenal sebagai politikus NU. Pembawaanya kalem, tidak meledak-ledak, namun smart. Di masa Orde Baru, dia menjadi anggota DPRD Surabaya dan Jawa Timur. Lalu, era Reformasi, bergabung dengan PKB. Selama dua periode (1999-2009) menjadi anggota Fraksi DPR RI.
Selepas itu, Cak Opik mengakhiri jalan hidupnya di politik. Memilih mengabdi di jalur pendidikan. Saat mengakhiri karir politiknya itu, dia juga sempat menulis buku menarik. Judulnya, Membangun Pendidikan Indonesia: Reformasi Pendidikan Menuju Masyarakat Berbasis Ilmu Pengetahuan
Ahmad Hanif, anak pertama almarhum, mengungkapkan, ayahnya meninggal karena serangan jantung. Namun, sebetulnya juga memiliki riwayat sejumlah penyakit lain seperti diabetes dan ginjal. Cak Opik meninggal di RSI Jemursari, pada Jumat, sekitar pukul 19.30 WIB.
’’Saat itu, saya menemani Bapak untuk cuci darah di RSI Jemursari. Setelah selesai, sama perawatnya dicek dan dinyatakan hasilnya bagus semuanya,” katanya kepada awak media.
Setelah itu, Hanif dan ayahnya pulang mengendarai mobil. Setiba di kawasan MERR menuju Jalan Ir Soekarno, sekitar pukul 19.00 WIB, dia melihat ayahnya seperti tertidur.
Awalnya, Hanif berpikir ayahnya kecapekan selepas cuci darah tersebut. Namun, saat tidur itu dirinya mendengar ayahnya seperti mendengkur. Padahal, bisanya tidak pernah seperti itu. ‘’Suara dengkuran itu dua kali,’’ ungkapnya.
Tak lama setelah itu, lanjut dia, tiba-tiba kepala ayahnya jatuh ke pundak kanannya. Kondisinya lemas seperti orang pingsan, Hanif langsung balik arah. Kembali ke RSI Jemursari. ‘’Setelah tiba di RSI Jemursari, dinyatakan meninggal. Mohon doanya dan mogon dimaafkan atas semua kesalahan Bapak,’’ pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
