Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Juli 2026 | 06.12 WIB

Jelang Muktamar NU, Tradisi Menulis Kitab Kembali Disorot sebagai Warisan Intelektual Ulama

Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), perhatian terhadap masa depan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren kembali mengemuka.

Muncul dorongan agar kalangan ulama tidak hanya mempertahankan tradisi mengkaji kitab, tetapi juga kembali aktif melahirkan karya-karya keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman.

Data Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan jutaan santri yang menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan Islam nasional.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia selama ini dikenal memiliki tradisi keilmuan yang kuat melalui kajian kitab kuning dan pengembangan pemikiran para ulama.

Namun, sejumlah kalangan menilai tradisi produksi karya tulis keagamaan perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu, tetapi juga pusat lahirnya pemikiran baru yang mampu menjawab berbagai persoalan kontemporer.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa menjelang peluncuran sekaligus bedah kitab karyanya, Ithafu Ummati Al Muqtafa, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (10/7) di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Menurut KH Zulfa, tradisi menulis kitab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perkembangan peradaban Islam.

"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujarnya.

Ia menilai pesantren selama ini telah berperan besar menjaga kesinambungan ilmu melalui kajian kitab-kitab klasik. Namun, di tengah tantangan baru seperti perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan, kalangan ulama juga didorong menghasilkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore